BILANGAN ADZAN JUMAT

BILANGAN ADZAN JUM’AT : PERSPEKTIF PERBANDINGAN
DR ALI TRIGIYATNO, M.AG

A. PENGANTAR
Termasuk persoalan khilafiyyah klasik yang mudah ditemui di tengah-tengah masyakat kita adalah dijumpainya dua amalan yang sedikit berbeda dalam pelaksanaan shalat Jum’at. Di satu kampung tak jarang terjadi ada dua masjid dengan amalan yang sedikit berbeda. Dalam masalah adzan Jum’at misalnya, satu masjid adzan cukup sekali ketika khatib sudah naik mimbar, sedang satunya lagi adzan dua kali.
Di tanah air, orang pada umumnya mudah menyimpulkan, kalau adzan cuma sekali berarti masjid itu ‘milik’ Muhammadiyah, dan jika adzannya dua kali, maka masjid itu berarti ‘milik’ NU. Bagi sebagian orang awam, mereka bertanya-tanya mengapa hal ini bisa terjadi?, Bagaimana duduk perkaranya?, Apa landasan masing-masing?. Manakah yang lebih kuat hujjah dan argumennya?. Demikian sederet pertanyaan yang mengganjal di benak sebagian umat Islam di Indonesia.
Adanya perbedaan pendapat khususnya dalam lapangan ilmu fiqh merupakan sebuah ‘keniscayaan’. Bahkan sebagian fuqaha` mengetengahkan jargon yang berbunyi :
فمن لم يعرف اختلاف الفقهاء لم يشم رائحة الفقه) فتاوى يسألونك – (ج 3 / ص 2)
“ Barang siapa belum mengetahui perbedaan pendapat para fuqaha`, sama saja ia belum merasakan baunya fiqh” ( Fatawa Yas`alunaka : 3/2)
Nah, jika pembaca perlu jawaban, simak dan baca uraian berikut ini.
B. PENDAPAT-PENDAPAT PARA FUQAHA`
B.1. Pendukung adzan sekali :
Di tanah air kita, pada umumnya, kelompok ‘muda’ atau pembaharu memegang pendapat bahwa adzan yang diikuti dan diamalkan adalah adzan sebagaimana yang terjadi pada masa Rasulullah, Abu Bakar dan Umar, yakni sekali adzan ketika khatib sudah naik mimbar. Imam asy-Syafi’i sendiri dalam kitab al-Umm buah karyanya condong kepada adzan sekali saja sebagaimana beliau nyatakan :
(قال الشافعي) وأحب أن يكون الاذان يوم الجمعة حين يدخل الامام المسجد ويجلس على موضعه الذى يخطب عليه خشب أو جريد أو منبر أو شئ مرفوع له أو الارض فإذا فعل أخذ المؤذن في الاذان فإذا فرغ قام فخطب لا يزيد عليه (قال الشافعي) وأحب أن يؤذن مؤذن واحد إذا كان على المنبر لا جماعة مؤذنين )الأم – (ج 1 / ص 224)
“ Berkata Imam asy-Syafi’i: “ Dan saya lebih menyukai jika adzan pada hari Jum’at itu dilakukan ketika imam masuk ke dalam masjid dan duduk di tempat ia menyampaikan khutbah baik di atas kayu, pelepah, atau mimbar atau apa saja yang letaknya ditinggikan baginya atau di atas tanah. Jika sudah siap berkhutbah, muadzin segera beradzan, jika telah selesai adzan, imam segera berdiri untuk berkhutbah tidak ada tambahan atasnya selain itu. Asy-Syafi’i berkata, “ Saya lebih menyukai jika yang beradzan itu seorang saja ketika imam sudah di atas mimbar, bukan dua muadzin.” ( al-Umm : 1/224)
Lebih lanjut beliau berkata :
(قال الشافعي) وأيهما كان فالامر الذى على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم أحب إلى ) الأم – (ج 1 / ص 224)
“ Berkata asy-Syafi’i : “ Manakah di antara dua hal itu yang lebih baik, maka keadaan pada masa Rasulullah SAW itulah yang lebih saya sukai”. ( al-Umm : 1/224)
Menurut satu riwayat, Imam Malik pun cenderung berpendapat adzan Jum’at itu sekali saja, sebagaimana terdapat dalam Syarh Ibnu Bathal :
فروى عنه ابن عبد الحكم قال: إذا جلس الإمام على المنبر ونادى المنادى منع الناس من البيع تلك الساعة، وهذا يدل أن النداء عنده واحد على ما فى هذا الحديث، ونحوه عن الشافعى )شرح ابن بطال – (ج 4 / ص 121)
“ Diriwayatkan Ibnu Abdil Hakam dari Imam Malik bahwa beliau berkata : Jika imam telah duduk di mimbar, dan muadzin telah mengumandangkan adzan maka manusia terlarang untuk melakukan transaksi jual beli saat itu, ini menunjukkan bahwa di sisi Malik adzan itu sekali sebagaimana kandungan hadis, pendapat serupa juga berasal dari asy-Syafi’i”. ( Syarh Ibnu Bathal : 4/121)
Pernyataan Sufyan ats-Tsauri berikut ini juga menguatkan bahwa Sufyan menguatkan adzan cukup sekali:
وقال سفيان الثوري : لا يؤذن للجمعة حتى تزول الشمس ، وإذا أذن المؤذن قام الإمام عى المنبر فخطب ، وإذا نزل أقام الصلاة ، قال : والأذان الذي كان على عهد رسول الله – صلى الله عليه وسلم – وأبي بكر وعمر أذان وأقامة ، وهذا الأذان الذي زادوه محدثٌ ) فتح الباري لابن رجب – (ج 6 / ص 205)
“ Berkata Sufyan ats-Tsauri, “ Adzan Jum’at tidak dilakukan kecuali matahari sudah tergelincir. Jika muadzin telah selesai beradzan, Imam berdiri untuk berkhutbah, jika imam selesai khutbah dan turun dari mimbar lantas diiqamati. Sufyan berkata, ‘ Adzan yang dipraktekkan pada zaman Nabi SAW dan Abu Bakar serta Umar adalah adzan sekali dan iqamat sekali, sedang adzan yang ditambahkan dari ini adalah sesuatu yang diada-adakan oleh manusia”. ( Fath al-Bari li Ibni Rajab : 6/205)
Sedang Abu Ya’la menurut penukilan Ibnu Rajab berkata :
وقال القاضي أبو يعلى : المستحب أن لا يؤذن الا أذان واحد ، وهو بعد جلوس الإمام على المنبر ، فإن أذن لها بعد الزوال وقبل جلوس الإمام جاز ، ولم يكره . )فتح الباري لابن رجب – (ج 6 / ص 206)
“ Berkata Abu Ya’la : Yang sunnah adzan itu cuma sekali, yakni tatkala imam telah duduk di atas mimbar. Jika adzan setelah matahari tergelincir sebelum imam naik mimbar boleh saja dan tidak makruh”. ( Fath al-Bari li Ibni Rajab : 6/206)
Dalam kitab Nail al-Authar terdapat riwayat dari Ibnu Umar yang menyatakan bahwa adzan pertama pada hari Jum’at adalah bid’ah.
وَرَوَى ابْنُ أَبِي شَيْبَةَ مِنْ طَرِيقِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ : الْأَذَانُ الْأَوَّلُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ بِدْعَةٌ) نيل الأوطار – (ج 5 / ص 371, فتح الباري لابن حجر – (ج 3 / ص 318)
“ Diriwayatkan dari Ibnu Abi Syaibah dari jalan Ibnu Umar bahwa ia berkata, “ Adzan awal pada hari Jum’at adalah bid’ah”. ( Nail al-Authar : 5/371, Fath al-Bari li Ibni Hajar : 3/318))
B.2. Pendukung adzan dua kali :
Ulama di kalangan madzhab yang empat pada umumnya mengamalkan adzan dua kali sebagaimana yang diperbuat pada masa Usman.
Dalam hal ini, Ibnu Qudamah seorang tokoh ulama madzhab Hanbali menulis :
والنداء الاول مستحب في أول الوقت، سنه عثمان رضي الله عنه وعملت به الامة بعده وهو للاعلام بالوقت، والثاني للاعلام بالخطبة، والثالث للاعلام بقيام الصلاة ) الشرح الكبير لابن قدامة – (ج 2 / ص 188)
“ Dan adzan pertama hukumnya mustahab (sunnah) di awal waktu, hal ini diprakarsai oleh Usman RA dan diamalkan oleh umat Islam sesudahnya. Adzan pertama ini bertujuan sebagai pemberitahuan telah masuk waktu. Sedang adzan kedua bertujuan untuk memberitahu khutbah, dan adzan ketiga (iqamat) bertujuan memberitahu shalat akan didirikan.” ( asy-Syarh al-Kabir li Ibni Qudamah : 2/188) :
Penulis Syarh Sunan Abu Dawud, mengutip pendapat :
قَالَ فِي عُمْدَة الْقَارِي : الْأَذَان الثَّالِث الَّذِي هُوَ الْأَوَّل فِي الْوُجُود لَكِنَّهُ ثَالِث بِاعْتِبَارِ شَرْعِيَّته بِاجْتِهَادِ عُثْمَان وَمُوَافَقَة سَائِر الصَّحَابَة لَهُ بِالسُّكُوتِ وَعَدَم الْإِنْكَار فَصَارَ إِجْمَاعًا سُكُوتِيًّا ، وَإِنَّمَا أُطْلِقَ الْأَذَان عَلَى الْإِقَامَة لِأَنَّهَا إِعْلَام كَالْأَذَانِ )عون المعبود – (ج 3 / ص 50)
“ Dikatakan dalam kitab ‘Umdatul Qari : Adzan ke tiga maksudnya adalah adzan pertama, ini adalah hasil ijtihad Usman yang disepakati oleh seluruh sahabat dengan diamnya mereka serta tidak mengingkari ijtihad ini maka boleh dikata ini adalah ijma’ sukuti. Dimutlakkannya iqamah dengan sebutan adzan karena ia berisi pemberitahuan layaknya adzan”. (‘Aun al- Ma’bud : 3/50).
Dalam kitab Tuhfadz al-Ahwadzi, al-Mubarakfuri menjelaskan :
قَالَ بَعْضُ الْحَنَفِيَّةِ : الْأَذَانُ الثَّالِثُ الَّذِي هُوَ الْأَوَّلُ وُجُودًا إِذَا كَانَتْ مَشْرُوعِيَّتُهُ بِاجْتِهَادِ عُثْمَانَ وَمُوَافَقَةُ سَائِرَ الصَّحَابَةِ لَهُ بِالسُّكُوتِ ، وَعَدَمُ الْإِنْكَارِ صَارَ أَمْرًا مَسْنُونًا نَظَرًا إِلَى قَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، ” عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ ” اِنْتَهَى .) تحفة الأحوذي – (ج 2 / ص 57)
َ“ Berkata sebagian ulama Hanafiyah : “Adzan ketiga yang prakteknya adalah adzan pertama, dasar pensyari’atannya adalah ijtihad Usman yang disetujui oleh seluruh sahabat secara sukuti ( diam) dengan tiada ingkar menunjukkan bahwa hal itu adalah sesuatu yang sunnah, dengan memperhatikan sabda Nabi SAW : “ Wajib atas kalian memegang teguh sunnahku dan sunnah khulafa ar-rasyidin yang dapat petunjuk”. ( Tuhfadzul Ahwadzi : 2/57).
Sedang salah seorang mufti kerajaan Saudi, Syaikh Abdul Aziz bin Baz berpendapat :
وقال العلامة الشيخ عبد العزيز بن باز:[… الأفضل أن يكون للجمعة أذانان إقتداءً بأمير المؤمنين عثمان بن عفان – رضي الله عنه – لأنه أحد الخلفاء الراشدين الذين أمرنا رسول الله – صلى الله عليه وسلم – بإتباع سنتهم) فتاوى يسألونك – (ج 9 / ص 53)
“ Berkata al-‘Allamah asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz: “ Yang lebih utama adalah adzan Jum’at itu dilakukan dua kali karena mengikuti Amir al-Mu`minin Usman bin Affan RA, sebagai salah satu khulafa ar-rasyidin yang oleh Rasulullah SAW kita disuruh mengikuti sunnah-sunnahnya”. ( Fatawa Yas`alunaka : 9/53)

C. PENDAPAT ULAMA DAN ORMAS ISLAM DI INDONESIA
C.1. Pendapat NU :
Kalangan Ulama NU berpendapat, adzan pertama pada hari Jum’at hukumnya sunnat sebagaimana terdapat dalam kumpulan fatwa berikut ini :
“ Adapun adzan pertama hukumnya sunat….
PCNU Ponorogo dalam buku berjudul Kiai NU tidak Berbuat Bid’ah, pada halaman 97 menulis pada bagian kesimpulan :
1. Berdasarkan yang pernah diperintahkan sahabat Usman bin Affan RA, adzan Jum’at dua kali disunnahkan. Karena mengikuti khulafaurrasyidin adalah perintah Nabi SAW.”
C.2. Pandangan MTA :
Lewat brosur Ahad 30 April 2006 berjudul Risalah Shalat Jumat (2), ada sub bab berjudul adzan pada hari Jum’at. Di situ dikutip 3 buah hadis semuanya riwayat al-Bukhari. Namun tidak dijumpai penjelasan, ke arah mana MTA lebih condong mengamalkan. Apakah adzan sekali atau dua kali.
C.3. Muhammadiyah :
Dalam hal pengamalan adzan Jum’at, Muhammadiyah memilih untuk mengamalkan sebagaimana yang diamalkan di zaman Rasulullah SAW, Abu Bakar, dan Umar yakni adzan Jumat cukup sekali dikumandangkan ketika Imam sudah naik mimbar.
C.4. Pendapat KH Siradjuddin Abbas :
Beliau menguatkan fatwa dalam madzhab Syafi’i yang umumnya menyunnahkan adzan dua kali sebagaimana yang diperbuat oleh Sayyidina Usman. Adzan sekali (pertama) sebagai peringatan, dan adzan yang kedua ketika khatib naik mimbar.
C.5. Prof Hasbi ash-Shiddieqy :
Dalam bukunya Pedoman Shalat beliau menulis :
“ Adab-adab muadzin Jum’at :
1. Hendaklah muadzin itu membaca sekali saja, yaitu di kala khatib telah selesai dari salamnya dan telah duduk di atas mimbar…”
C.6. Pendapat Ahmad Hassan ( Tokoh ulama PERSIS)
“ Yang sunnah dan sesuai dengan tuntunan Nabi, Abu Bakar dan Umar adalah adzan sekali saja di kala khatib naik mimbar. Adzan tambahan itu bid’ah, namun karena terbitnya dari sahabat Usman tak dapat kita salahkan begitu saja. Karena dalam beberapa hadis disuruh kita buat mengikuti sunnah sahabatnya”.
C.7. H. Sulaiman Rasjid :
“ Menurut pendapat yang mu’tamad, sesungguhnya adzan Jum’at itu hanya sekali saja, yaitu sewaktu khatib sudah duduk di atas mimbar”.
D. DALIL-DALIL MASING-MASING KELOMPOK DAN KRITIKANNYA
D.1. Dalil-dalil yang diajukan kelompok pendukung adzan sekali.
Hadis Pertama:
عَنْ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ قَالَ كَانَ النِّدَاءُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوَّلُهُ إِذَا جَلَسَ الْإِمَامُ عَلَى الْمِنْبَرِ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا فَلَمَّا كَانَ عُثْمَانُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَكَثُرَ النَّاسُ زَادَ النِّدَاءَ الثَّالِثَ عَلَى الزَّوْرَاءِ) صحيح البخاري – (ج 3 / ص 440)
“ Dari Sa`ib bin Yazid ia berkata : “ Biasanya adzan pada hari Jum’at dilakukan mulanya ketika imam naik mimbar pada masa Rasulullah SAW, Abu Bakar, Umar RA, pada masa Usman di kala manusia bertambah banyak, beliau menambah adzan ketiga di atas Zaura`”. ( Sahih al-Bukhari : 3/440)
Riwayat di atas secara sharih menjelaskan bahwa adzan di masa Nabi SAW, Abu Bakar dan Umar hanya sekali saja dilakukan, baru pada masa Usman ditambah satu adzan lagi karena manusia sudah bertambah banyak.
Hadis kedua :
عَنْ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ أَنَّ الَّذِي زَادَ التَّأْذِينَ الثَّالِثَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ حِينَ كَثُرَ أَهْلُ الْمَدِينَةِ وَلَمْ يَكُنْ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُؤَذِّنٌ غَيْرَ وَاحِدٍ وَكَانَ التَّأْذِينُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ حِينَ يَجْلِسُ الْإِمَامُ يَعْنِي عَلَى الْمِنْبَرِ )صحيح البخاري – (ج 3 / ص 442)
“ Dari Sa`ib bin Yazid bahwasanya yang menambah adzan ketiga pada hari Jum’at adalah Usman bin Affan RA ketika penduduk Madinah sudah bertambah banyak. Pada zaman Nabi SAW muadzin itu hanya satu. Adzan pada hari Jum’at dilakukan ketika imam naik mimbar”. ( Sahih al-Bukhari : 3/442)
Hadis kedua inipun secara jelas menunjukkan bahwa adzan pada masa Nabi SAW, Abu Bakar dan Umar hanya sekali, Usmanlah yang berinisiatif menambahkan satu adzan lagi.
Hadis ketiga :
عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اقْتَدُوا بِاللَّذَيْنِ مِنْ بَعْدِي أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ ) سنن الترمذي – ج 12 / ص 121(تحقيق الألباني : صحيح ، ابن ماجة ( 97 ) صحيح وضعيف سنن الترمذي – (ج 8 / ص 162)
“ Dari Hudzaifah ia berkata, bersabda Rasulullah SAW : Ikutilah oleh kalian sesudahku Abu Bakar dan Umar” ( Sunan Tirmidzi : 12/121)
Nah, dengan sabda Nabi yang dihukumi sahih oleh al-Albani ini, maka kita disuruh mengikuti sunnah dua sahabat sepeninggal beliau yakni Abu Bakar dan Umar, padahal telah terang bahwa sunnah beliau berdua dalam hal adzan Jum’at adalah cuma sekali saja.
Atsar Sahabat :
Atsar dari Ibnu Umar 1 :
عن ابن عمر ، قال : إنما كان رسول الله – صلى الله عليه وسلم – إذا قعد على المنبر أذن بلالٌ ، فإذا فرغ النبي – صلى الله عليه وسلم – من خطبته اقام الصلاة ، والاذان الأول بدعة ) فتح الباري لابن رجب – (ج 6 / ص 205)
“ Dari Ibnu Umar ia berkata : “ Hanyalah jika Rasulullah telah naik mimbar Bilal beradzan, jika beliau telah selesai dari khutbahnya iqamat dilakukan, dan adzan awal itu bid’ah “.( Fath al-Bari li Ibni Rajab : 6/205).

Atsar dari Ibnu Umar 2 :
وروى وكيع في (كتابه ) عن هشام بن الغاز ، قال : سألت نافعاً عن الأذان يوم الجمعة ؟ فقالَ : قالَ ابن عمر : بدعةٌ ، وكل بدعة ظلالة ، وإن رآه الناس حسناً) فتح الباري لابن رجب – (ج 6 / ص 205)
“ Diriwayatkan dari Waki’ dalam Kitabnya dari Hisyam bin al-Ghaz ia berkata, “ Aku bertanya Nafi’ tentang adzan (tambahan) pada hari Jum’at, maka ia menjawab, ‘ berkata Ibnu Umar, itu adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat walaupun dipandang baik oleh manusia banyak”. ( Fath al-Bari li Ibni Rajab : 6/205)
Dalam hal ini pensyarah Sunan Tirmidzi, al-Mubarakfuri punya penjelasan menarik :
وَمِنْ ذَلِكَ أَذَانُ الْجُمُعَةِ الْأَوَّلُ زَادَهُ عُثْمَانُ لِحَاجَةِ النَّاسِ إِلَيْهِ وَأَقَرَّهُ عَلِيٌّ وَاسْتَمَرَّ عَمَلُ الْمُسْلِمِينَ عَلَيْهِ ، وَرُوِيَ عَنْ اِبْنِ عُمَرَ أَنَّهُ قَالَ هُوَ بِدْعَةٌ وَلَعَلَّهُ أَرَادَ مَا أَرَادَ أَبُوهُ فِي التَّرَاوِيحِ اِنْتَهَى مُلَخَّصًا) تحفة الأحوذي – (ج 6 / ص 475)
“ Dari itu, adzan Jum’at yang pertama yang ditambahkan Usman karena ada hajat manusia terhadapnya serta ditetapkan oleh Imam Ali dan terus diamalkan oleh kaum muslimin, diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwasanya ia berkata, ‘bid’ah’ barangkali yang dimaksud sama ketika ayahnya membid’ahkan tarawih berjamaah”. ( Tuhfadz al-Ahwadzi : 6/475)
Menarik juga untuk direnungkan pernyataan Sufyan ats-Tsauri :
وقال سفيان الثوري : لا يؤذن للجمعة حتى تزول الشمس ، وإذا أذن المؤذن قام الإمام عى المنبر فخطب ، وإذا نزل أقام الصلاة ، قال : والأذان الذي كان على عهد رسول الله – صلى الله عليه وسلم – وأبي بكر وعمر أذان وأقامة ، وهذا الأذان الذي زادوه محدثٌ.
“ Berkata Sufyan ats-Tsauri, “ Adzan Jum’at tidak dilakukan kecuali matahari sudah bergeser. Jika muadzin telah selesai beradzan, imam berdiri untuk berkhutbah, jika imam selesai khutbah dan turun dari mimbar lantas diiqamati. Sufyan berkata, ‘ Adzan yang dipraktekkan pada zaman Nabi SAW dan Abu Bakar serta Umar adalah adzan sekali dan iqamat sekali, sedang adzan yang ditambahkan dari ini adalah sesuatu yang diada-adakan oleh manusia”. ( Fath al-Bari li Ibni Rajab : 6/205)
Pendapat yang membid’ahkan adzan pertama juga dinukil dari Ishaq bin Rahawaih :
عن إسحاق بن راهويه : أن الأذان الأول للجمعة محدث ، احدثه عثمان.) )فتح الباري لابن رجب – (ج 6 / ص 206)
“ Dari Ishaq bin Rahawaih bahwa adzan awal untuk Shalat Jum’at adalah muhdats ( perkara yang diadakan/bid’ah), yakni diadakan oleh Usman”. ( Fath al-Bari: 6/206).
Dalam kitab Talkhis al-Habir , Ibnu Hajar menceritakan bahwa Imam Syafi’i meriwayatkan dari Atha`, bahwa Atha` mengingkari kalau Usmanlah yang membuat adzan tambahan itu. Menurutnya, Usman hanya membuat sebuah peringatan. Yang membuat adzan tambahan adalah Mu’awiyah.
D.2. Dalil-dalil yang diajukan kelompok yang menyunnahkan adzan dua kali.
Hadis pertama :
عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ سَمِعْتُ السَّائِبَ بْنَ يَزِيدَ يَقُولُ إِنَّ الْأَذَانَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ كَانَ أَوَّلُهُ حِينَ يَجْلِسُ الْإِمَامُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ عَلَى الْمِنْبَرِ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا فَلَمَّا كَانَ فِي خِلَافَةِ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَكَثُرُوا أَمَرَ عُثْمَانُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ بِالْأَذَانِ الثَّالِثِ فَأُذِّنَ بِهِ عَلَى الزَّوْرَاءِ فَثَبَتَ الْأَمْرُ عَلَى ذَلِكَ )صحيح البخاري – (ج 3 / ص 448)
Dari az-Zuhri ia berkata : Aku mendengar dari Sa`ib bin Yazid, beliau berkata, “Sesungguhnya adzan di hari Jumat pada asalnya ketika masa Rasulullah SAW, Abu Bakar RA, dan Umar RA dilakukan ketika imam duduk di atas mimbar. Namun ketika masa Khalifah Usman RA dan kaum muslimin sudah banyak, maka beliau memerintahkan agar diadakan adzan yang ketiga. Adzan tersebut dikumandangkan di atas Zaura` (nama pasar). Maka tetaplah hal tersebut (sampai sekarang) . (Sahih al-Bukhari: 3/448)
Dalam hadis ini cukup jelas, bahwa perbuatan Usman menambah adzan terus berlangsung diamalkan kaum muslimin sesudahnya, nyaris tanpa ada yang mempersoalkan.
Hadis kedua :
فَعَليْكُمْ بسُنَّتِي وسُنَّةِ الخُلَفاءِ الرَّاشِدِينَ المَهْدِيِيِّنَ عَضُّوا عَلَيْهَا بالنَّواجِذِ ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ ؛ فإنَّ كلَّ بدعة ضلالة )) سنن أبي داود – (ج 12 / ص 211) مسند أحمد – (ج 35 / ص 9)

“ Maka hendaklah kamu sekalian menetapi sunnahku dan sunnah khulafaurrasyidin al-mahdiyyin dan pegang teguhlah sunnah itu dengan kokoh, serta jauhilah perkara yang diada-adakan, karena semua bid’ah adalah sesat” ( Sunan Abu Dawud : 12/211, Musnad Ahmad : 35/9)
Dalam hadis tersebut terkandung ajaran dan sekaligus perintah untuk menetapi sunnah khulafaurrasyidin termasuk tentu saja sunnah Sayyidina Usman.
Namun dalam memaknai hadis ini, penulis Syarah Sunan Tirmidzi, al-Mubarakfuri punya penjelasan menarik. Menurutnya penambahan adzan oleh Usman lantas dihukumi perkara sunnah tidaklah sepenuhnya benar, mengingat ada sahabat seperti Ibnu Umar yang berpendapat tambahan adzan ini adalah bid’ah. Sunnah yang wajib diikuti dari khulafaurrasyidin adalah sunnah yang sesuai dengan sunnah Nabi SAW.
Sehubungan dengan pengamalan sunnah sahabat, Mulla ‘Ali al-Qari menjelaskan :
قَالَ الْقَارِي فِي الْمِرْقَاةِ : ” فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي ” أَيْ بِطَرِيقَتِي الثَّابِتَةِ عَنِّي وَاجِبًا أَوْ مَنْدُوبًا ، وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ فَإِنَّهُمْ لَمْ يَعْمَلُوا إِلَّا بِسُنَّتِي )تحفة الأحوذي – (ج 2 / ص 57(
“ Berkata al-Qari fi al-Mirqah : “ Wajib atas kalian memegang teguh sunnahku”, artinya jalanku yang tetap dariku baik yang wajib maupun yang sunat, dan sunnah khulafaurrasyidin itu tidak diamalkan kecuali dengan sunnahku”. ( Tuhfadz al- Ahwadzi : 2/57)
Selain itu, hadis tersebut juga dapat dipakai golongan ulama yang mengamalkan adzan sekali, karena khalifah yang empat, dua khalifah yakni Abu Bakar dan Umar mempraktekkan adzan Jum’at hanya sekali, sedang dua khalifah yakni Usman dan Ali mempraktekkan adzan dua kali.
Padahal untuk mengikuti sunnah Sayyidina Abu Bakar dan Umar ada hadis lagi yang secara khusus menyuruh untuk mengikuti keduanya. Hadis dimaksud berbunyi :
عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اقْتَدُوا بِاللَّذَيْنِ مِنْ بَعْدِي أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ )سنن الترمذي – (ج 12 / ص 121(مسند أحمد – (ج 47 / ص 230) السنن الكبرى للبيهقي – (ج 5 / ص 212) المعجم الأوسط للطبراني – (ج 9 / ص 11)
“ Dari Hudzaifah ia berkata : “Bersabda Rasulullah SAW, ‘ Ikutilah dua orang sesudahku yakni Abu Bakar dan Umar”. ( Sunan at-Tirmidzi : 12/121, Musnad Ahmad : 47/230, as-Sunan al-Kubra li al-Baihaqi : 5/212, al-Mu’jam al-Ausath li ath-Thabrani : 9/11)
Hadis tersebut disahihkan oleh al-Albani dalam Sahih wa Dha’if al-Jami’ ash-Shaghir : 5/469, dinilai hasan oleh Ibnu Mulqin dalam al-Badr al-Munir : 9/578.

E. KESIMPULAN
Sebagai kesimpulan, setelah menyimak pendapat dan argumen masing-masing kelompok kiranya boleh dibilang, kedua-duanya sama-sama memiliki hujjah yang kuat dan meyakinkan. Semuanya memiliki referensi yang jelas dan meyakinkan, mana saja pendapat yang dipilih semuanya berlandaskan sunnah dan tak ada yang pantas disebut bid’ah.
Dalam hal ini cukup bijak apa yang difatwakan oleh penyusun kitab Fatawa asy-Syibkah al-Islamiyyah sebagai berikut ini :
والذي نراه أن الأمر واسع فمن أذن أذانا واحداً فهو بذلك متأسٍ برسول الله صلى الله عليه وسلم ومقتدٍ بأبي بكر وعمر ، ومن أذن أذانين فهو بذلك مقتد بالخليفة الراشد عثمان بن عفان ومن وافقه من المهاجرين والأنصار. ا.هـ. )فتاوى الشبكة الإسلامية – (ج 14 / ص 20)
“ Dalam hal ini menurut kami, permasalahan ini adalah luas. Siapa yang adzan hanya sekali, ia sudah mengikuti sunah Nabi SAW, Abu Bakar dan Umar. Siapa yang adzan dua kali ia telah mengikuti petunjuk Usman bin Affan dan orang yang menyetujuinya dari kalangan Muhajirin dan Anshar”. ( Fatawa asy-Syibkah al-Islamiyyah : 14/20)
Namun demikian, sebagian ulama mengunggulkan untuk lebih memilih sebagaimana praktek yang dijalankan oleh Nabi SAW, Abu Bakar dan Umar seperti yang dilakukan oleh Syaikh Nashiruddin al-Albani dalam kitabya al-Ajwibah an-Nafi’ah : 1/5 :
والخلاصة : أننا نرى أن يكتفى بالأذان المحمدي وأن يكون عند خروج الإمام وصعوده على المنبر لزوال السبب المبرر لزيادة عثمان واتباعا لسنة النبي صلى الله عليه وسلم وهو القائل : ” فمن رغب عن سنتي فليس مني ”
“ Kesimpulan : “ Kami berpendapat, cukup adzan seperti yang dipraktekkan zaman Nabi SAW, yakni ketika imam keluar dan naik ke atas mimbar, disebabkan alasan Usman menambah adzan itu sudah hilang. Ini juga ittiba’ terhadap sunnah Nabi dimana beliau pernah mengatakan, “ Siapa yang membenci sunnahku, maka ia bukan golonganku”.
Sampai di sini tampak, hujjah ulama yang memilih adzan sekali lebih kuat dengan bukti dan alasan sebagai berikut :
1. Adzan sekali mengikuti sunnah Nabi SAW yang hanya adzan sekali ketika imam naik mimbar.
2. Mengikuti sunnah Abu Bakar dan Umar, di mana dalam hadis riwayat Tirmidzi di atas kita disuruh mengikutinya sepeninggal Nabi SAW.
3. Hadis yang menyuruh kita mengikuti sunnah khulafaurrasyidin yang sering dipakai hujjah ulama yang menyunnahkan adzan dua kali, pada saat yang sama juga dalil itu berlaku bagi pendukung adzan sekali, karena perintah mengikuti khulafaurrasyidin juga termasuk di dalamnya mengikuti sunnah Abu Bakar dan Umar.
4. Alasan-alasan yang menjadi pertimbangan Sayyidina Usman menambah adzan pertama, untuk konteks zaman sekarang kebanyakan sudah kurang relevan lagi. Alasan untuk mengingatkan orang banyak dapat dijawab, sekarang ini alat untuk mengingatkan bahwa hari ini hari Jum’at sudah ada banyak kalender lengkap dengan jadwal shalat yang dimiliki hampir semua keluarga. Untuk memberitahu bahwa sebentar lagi mau Jum’atan zaman sekarang masjid-masjid satu jam sebelumnya sudah menyetel alunan ayat suci al-Qur`an lewat pengeras suara yang kedengaran sampai jauh, belum lagi di sebagian masjid terutama di kampung bedug dan kentongan dipukul bertalu-talu. Selain itu, jarak antar masjid yang menyelenggarakan shalat Jum’at juga relatif dekat, apalagi di kota-kota, jarak antar masjid terkadang hanya puluhan atau ratusan meter saja. Sementara di zaman sayyidina Usman, dan masa sesudahnya dalam satu kota umumnya hanya diselenggarakan satu Jum’atan di masjid Jami’.
Dari itu tidak mengherankan jika Imam asy-Syafi’i yang digelari nashir as-Sunnah lebih menyukai dan memilih adzan sekali seperti yang dipraktekkan di zaman Nabi SAW, Abu Bakar dan Umar.
Pernyataan ini dapat dibaca dalam kitab al-Umm karya beliau :
(قال الشافعي) وأيهما كان فالامر الذى على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم أحب إلى
“ Berkata asy-Syafi’i : “ Manakah di antara dua hal itu yang lebih baik, maka keadaan pada masa Rasulullah SAW itulah yang lebih saya sukai”.

F. PENUTUP
Setelah mengikuti paparan sekaligus uraian masalah adzan Jum’at, maka cukup jelas bagi kita bahwa kedua pendapat tersebut sama-sama mengikuti argumen dan sandaran yang kuat dan meyakinkan. Mana saja dari dua pendapat itu sama-sama mengikuti sunnah dan tidak ada yang bisa disebut melakukan bid’ah. Walau bagaimanapun juga, pendapat yang mengunggulkan adzan cuma sekali menurut hemat penulis tetap lebih kuat. Namun yang lebih penting lagi, jangan sampai persoalan seperti ini membuat ukhuwah kita sesama muslim terganggu hanya karena kita tidak dewasa dalam menyikapi perbedaan ini.
Perbedaan itu sedari dulu sudah ada, hari ini kita saksikan, dan Insya Allah sampai nantipun akan tetap ada. Maka dari itu tidak perlu “bermimpi” untuk menghapus perbedaan itu, yang diperlukan adalah menyikapi perbedaan itu dengan penuh kearifan, kedewasaan, keluasan dan keluwesan, agar perbedaan tidak mendatangkan kelemahan dan kerugian bagi kita bersama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s