MASALAH BASMALAH SIRR DAN JAHR

 

 

PERIHAL BACAAN BASMALAH SIRR DAN JAHR  DALAM SHALAT

Bi Qalam : Ali Trigiyatno, S.Ag, M.Ag

 

  1. A.    PENGANTAR

Menurut madzhab asy-Syafi’i, madzhab yang paling banyak dianut dan lebih dahulu berkembang di Indonesia, bacaan basmalah wajib dibaca beserta al-Fatihah. Dibaca secara keras dalam shalat jahr dan dibaca sirr dalam shalat sirr. Namun belakangan, karena pengaruh madzhab Hanbali khususnya yang masuk belakangan ini, maka sebagian imam masjid mulai ada beberapa imam yang mensirrkan bacaan basmalah ketika mengimami shalat.

Bagi sebagian orang awwam yang belum tahu banyak persoalan khilafiyyah dalam masalah fiqh, dikiranya basmalah dalam al-Fatihah tidak lagi dibaca. Padahal ia ada ditulis dalam surat al-Fatihah sebagaimana umumnya mushaf yang beredar di Indonesia. Parahnya lagi terkadang ada sebagian tokoh agama setempat yang dengan emosional memvonis bahwa shalat orang yang tidak membaca basmalah hukumnya tidak sah, maka tak ayal lagi orang awam dibuat bingung karenanya. Belum kalau ada tambahan informasi yang tidak bertanggung jawab yang mengaitkan amalan tertentu dengan gerakan fundamentalis atau ekstrimis.

Guna sedikit membantu menjernihkan persoalan, berikut kami sajikan pendapat berbagai ulama dari berbagai madzhab seputar bacaan basmalah tersebut beserta dalil-dalil yang dijadikan sandaran pendirian mereka. Tak lupa pula kami sertakan apa yang menjadi pegangan amalan ormas Islam di Indonesia dengan satu harapan dapat mengurangi kebingungan dan menghilangkan kesamaran karenanya.

 

 

  1. B.  PENDAPAT-PENDAPAT PARA FUQAHA`[1]

B.1 Pendapat pertama

Basmalah tidak termasuk ayat dari surat al-Fatihah, sunnah dibaca secara sirr ketika membaca al-Fatihah  dalam shalat, baik shalat sirriyyah maupun jahriyyah. Pendapat ini dipegang oleh Imam Ahmad[2], Imam Abu Hanifah[3] dan Sufyan ats-Tsauri.[4]

 Menurut penuturan at-Tirmidzi, pendapat inilah yang menjadi pegangan kebanyakan ahli ilmu dari kalangan sahabat Nabi dan tabi’in seperti Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali. Ibnu al-Mundzir menambahkan nama Ibnu Mas’ud, Ibnu Zubair dan ‘Ammar.  Pendapat ini juga dipegangi oleh al-Hakam, Hammad, al-Auza’i, Suyan ats-Tsauri, Ibnu al-Mubarak dan kelompok ulama ahl ra’y.[5] Ulama kontemporer yang menguatkan pendapat ini di antaranya  Husain bin ‘Audah al-‘Awasyah dalam kitab al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Muyassarah fi Fiqh al-Kitab wa as-Sunnah al-Muthahharah.[6]

Melengkapi keterangan di atas,  Ibnu Rajab lewat Fath al-Bari 5/200 menjelaskan siapa saja yang berpendapat seperti ini :

وإلى ذَلِكَ ذهب أكثر أهل العلم من أصْحَاب النَّبِيّ – صلى الله عليه وسلم – ، منهم : أبو بَكْر وعمر وعثمان وعلي وغيرهم ، ومن بعدهم من التابعين ، وبه يَقُول سُفْيَان الثوري وابن المبارك وأحمد وإسحاق ، لا يرون أن يجهر بـ (( بسم الله الرحمن الرحيم )) . قالوا : ويقولها فِي نفسه . انتهى . وحكى ابن المنذر هَذَا القول عَن سُفْيَان وأهل الرأي وأحمد وأبي عُبَيْدِ ، قَالَ : ورويناه عَن عُمَر وعلي وابن مَسْعُود وعمار بْن ياسر وابن الزُّبَيْر والحكم وحماد .قَالَ : وَقَالَ الأوزاعي : الإمام يخفيها .

“ Pendapat mensirrkan basmalah adalah pendapat kebanyakan ahli ilmu dari kalangan sahabat Nabi SAW seperti Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali serta yang lain-lain sesudah mereka dari kalangan tabi’in. Yang berpendapat demikian juga adalah Sufyan ats-Tsauri, Ibnu al-Mubarak, Ahmad dan Ishaq. Mereka mengajarkan agar basmalah dibaca secara pelan ( didengar sendiri). Ibnu al-Mundzir menghikayatkan pendapat ini berasal dari Sufyan ats-Tsauri, ahl ar-Ra’y, Ahmad, Abu Ubaid. Ia juga berkata, “ Kami juga meriwayatkan pendapat ini berasal dari Umar, Ali, Ibnu Mas’ud, Ammar bin Yasir, Ibnu az-Zubair, al-Hakam, Hammad. Ia berkata, ‘ Berkata al-Auza’i : Imam membaca basmalah dengan pelan”.

Ibnu Katsir[7] menerangkan dalam tafsirnya : 1/118 :

وذهب آخرون إلى أنه لا يجهر بالبسملة في الصلاة، وهذا هو الثابت عن الخلفاء الأربعة وعبد الله بن مغفل، وطوائف من سلف التابعين والخلف، وهو مذهب أبي حنيفة، والثوري، وأحمد بن حنبل.

“ Ulama lain berpendirian bahwasanya basmalah tidak dikeraskan dalam shalat, riwayat ini adalah yang tetap (meyakinkan) dari khalifah empat dan Abdullah bin Mughaffal dan sekelompok ulama salaf, tabi’in dan khalaf. Ini menjadi pilihan madzhab Abu Hanifah, ats-Tsauri dan Ahmad bin Hanbal.”

 

B.2. Pendapat kedua

Basmalah termasuk ayat dalam surat al-Fatihah dan wajib dibaca beserta al-Fatihah secara keras (jahr) dalam shalat jahriyyah dan secara sirr dalam shalat sirriyyah. Pendapat ini menjadi pegangan Imam asy-Syafi’i dan pengikutnya.[8]

Di kalangan penganut madzhab asy-Syafi’i terdapat kesepakatan, sebagaimana diterangkan an-Nawawi, bahwa basmalah termasuk dalam Surat al-Fatihah tanpa ada perselisihan.

اما حكم المسألة فمذهبنا ان بسم الله الرحمن الرحيم آية كاملة من اول الفاتحة بلا خلاف ) المجموع شرح المهذب – (ج 3 / ص 333)

“ Adapun hukum masalah, maja madzhab kami bahwasanya basmalah itu satu ayat yang sempurna dari awal surat al-Fatihah tanp ada perselisihan”. ( al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab : 3/333)

Menurut para qurra` Makah, sebagian Kufah dan Hijaz, basmalah termasuk satu ayat dari surat al-Fatihah.[9]

Ibnu Katsir menjelaskan siapa saja yang memegang pendapat ini dalam tafsirnya 1/117 :

فذهب الشافعي، رحمه الله، إلى أنه يجهر بها مع الفاتحة والسورة، وهو مذهب طوائف من الصحابة والتابعين وأئمة المسلمين سلفًا وخلفًا  ، فجهر بها من الصحابة أبو هريرة، وابن عمر، وابن عباس، ومعاوية)… تفسير ابن كثير – (1 / 117)

 

“ Imam asy-Syafi’i berpendapat bahwasanya basmalah dikeraskan beserta al-Fatihah dan surat(an), ini juga menjadi pendapat segolongan dari kalangan sahabat dan tabi’in dan para imam kaum muslimin zaman dahulu dan kemudian. Yang mengeraskan basmalah dari kalangan sahabat di antaranya Abu Hurairah, Ibnu Umar, Ibnu Abbas dan Mu’awiyah…”

Imam an-Nawawi menandaskan bahwa menurut madzhab kami (madzhab asy-Syafi’i), basmalah disunnahkan untuk dibaca keras dalam shalat jahriyah baik di awal al-Fatihah maupun di awal surat. Lebih lanjut beliau menjelaskan siapa saja yang berpendapat seperti ini, dengan menukil riwayat dari Abu Bakar al-Khathib, di antaranya dari kalangan sahabat  ada khalifah yang empat,[10] Ammar bin Yasir, Ubay bin Ka’ab, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Abu Qatadah, Abu Sa’id, Qais bin Malik, Abu Hurairah, Abdullah bin Abi Aufa, Syadad bin Aus, Abdullah bin Ja’far, Husain bin Ali, Abdullah Ja’far, dan Mu’awiyah serta sejumlah sahabat dari Muhajirin dan Anshar. Dari kalangan tabi’in ada Sa’id bin al-Musayyab, Thawus, Atha`, Mujahid, Abu wail, Sa’id bin Jubair, Ibnu Sirin, Ikrimah, Ali bin Husain, Muhammad bin Ali, Salim bin Abdullah…..dll.[11]

B.3. Pendapat ketiga

Basmalah bukan termasuk ayat dari surat al-Fatihah maka hukumnya makruh dibaca beserta al-Fatihah dalam shalat fardhu baik secara pelan maupun keras, namun boleh dibaca dalam shalat sunat. Ini menjadi pegangan Imam Malik dan pengikutnya.[12]

Di kalangan qurra`, yang berpendapat basmalah bukan termasuk surat al-Fatihah  menurut nukilan al-Baghawi adalah qurra` Madinah, Bashrah dan Kufah.[13]

Ibnu Katsir berkata dalam Tafsir Ibnu Katsir :1/118 :

وعند الإمام مالك: أنه لا يقرأ البسملة بالكلية، لا جهرًا ولا سرًا

“ Menurut Imam Malik : Basmalah tidak dibaca secara keseluruhan, baik dibaca keras maupun pelan-pelan”

Sedang Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya mengatakan 1/96:

وجملة مذهب مالك وأصحابه: أنها ليست عندهم آية من فاتحة الكتاب ولاغيرها، ولا يقرأ بها المصلي في المكتوبة ولافي غيرها سرا ولا جهرا، ويجوز أن يقرأها في النوافل. هذا هو المشهور من مذهبه عند أصحابه.

“ Kesimpulan madzhab Malik dan sahabatnya, bahwasanya basmalah bukan termasuk surat al-Fatihah dan juga surat selainnya, basmalah tidak dibaca dalam shalat fardhu dan juga selainnya baik secara sirr maupun jahr, namun boleh dibaca dalam shalat sunat. Pendapat inilah yang masyhur dari Imam Malik menurut sahabat-sahabatnya”.

 

  1. B.     4. Pendapat keempat

Basmalah dapat dibaca sekali tempo secara keras dan sekali tempo secara pelan, walau secara sirr dianggap lebih sering dikerjakan Nabi SAW. Pendapat ini dimotori oleh Ibnu al-Qayyim dalam kitabnya Zadul Ma’ad fi Hadyi Khair al-`Ibad : 1/119

وَكَانَ يَجْهَرُ بِبِسْمِ اللّهِ الرّحْمَنِ الرّحِيمِ تَارَةً وَيُخْفِيهَا أَكْثَرَ مِمّا يَجْهَرُ بِهَا دَائِمًا فِي كُلّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ خَمْسَ مَرّاتٍ أَبَدًا حَضَرًا وَسَفَرًا وَيَخْفَى ذَلِكَ عَلَى خُلَفَائِهِ الرّاشِدِينَ وَعَلَى جُمْهُورِ أَصْحَابِهِ وَأَهْلِ بَلَدِهِ فِي الْأَعْصَارِ الْفَاضِلَةِ هَذَا مِنْ أَمْحَلِ الْمُحَالِ حَتّى يَحْتَاجَ إلَى التّشَبّثِ فِيهِ بِأَلْفَاظٍ مُجْمَلَةٍ وَأَحَادِيثَ وَاهِيَةٍ فَصَحِيحُ تِلْكَ الْأَحَادِيثِ غَيْرُ صَرِيحٍ وَصَرِيحُهَا غَيْرُ صَحِيحٍ وَهَذَا مَوْضِعٌ يَسْتَدْعِي مُجَلّدًا ضَخْمًا .

 

Ibnul Qayyim berkata :

“ Dahulu Rasulullah SAW. kadang-kadang mengeraskan lafadz bismillahirrahmanirahim dan lebih sering tidak membacanya secara keras. Dengan demikian tidak diragukan lagi bahwa beliau tidak selalu mengeraskan basmalah ketika shalat lima waktu dalam sehari semalam, baik ketika bermukim ataupun bepergian. Beliau memperlihatkan hal ini kepada khulafa` rasyidin, kepada para sahabatnya dan penduduk kota-kota besar. Ini merupakan hal yang paling mustahil sehingga harus dijelaskan lagi. Untuk membahas masalah ini rupanya membutuhkan ruang yang berjilid-jilid yang tebal .”

B.5. Pendapat kelima :

Pendapat ini dikemukakan oleh Ibnu Abi Laila dan al-Hakam menurut penuturan al-Qadhi Abu Thayyib ath-Thabari, bahwa basmalah mau dibaca keras atau pelan itu sama saja.

وَحَكَى الْقَاضِي أَبُو الطَّيِّبِ الطَّبَرِيُّ عَنْ ابْنِ أَبِي لَيْلَى وَالْحَكَمِ أَنَّ الْجَهْرَ وَالْإِسْرَارَ بِهَا سَوَاءٌ.[14]

Az-Zaila’i menukil, ulama yang berpendapat basmalah boleh dibaca pelan maupun keras di antaranya Ishaq bin Rahawaih, dan Ibnu Hazm.[15]

 

  1. C.    Fatwa-fatwa Ormas/ulama Islam di Indonesia

C.1. Fatwa Muhammadiyah

Tim Tarjih dalam menjawab pertanyaan seputar bacaan basmalah dalam al-Fatihah dalam shalat menyimpulkan di akhir jawabannya sebagai berikut :

  1. Dalam menunaikan shalat dituntunkan oleh Rasulullah saw dan para sahabatnya untuk membaca bismillahirrahmanirrahim dalam mengawali bacaan al-Fatihah.
  2. Bacaan bismillahirrahmanirrahim tersebut dapat dilakukan dengan suara nyaring atau dengan secara sirr ( tidak nyaring).
  3. Agar tidak menimbulkan keraguan, bagi imam yang membaca al-Fatihah  dengan suara nyaring  seyogyanya membaca bismillahirrahmanirrahim dengan suara nyaring pula.[16]

Tuntunan yang diberikan Tim Tarjih ini cukup bijak dan bisa ’ngemong’ jamaah. Mengingat sebagian besar umat muslim di Indonesia menganut paham Syafi’iyyah yang memfatwakan basmalah dianjurkan dibaca keras dalam shalat jahriyyah. Sehingga nasihat poin ke tiga dapat dimaklumi. Namun demikian mengingat kekuatan hadis-hadis yang mensirrkan basmalah, kiranya membaca basmalah secara sirr pun perlu dipraktekkan dan disosialisasikan secara bertahap sembari menunggu kesiapan para jamaah.

C.2.  Fatwa KH Muhyiddin Abdusshomad ( ulama NU / Ketua Tanfidziyah PC NU Jember)

Di bukunya Fiqh Tradisionalis, halaman 95 di akhir jawabannya, beliau menulis :

“ Dengan demikian dapat kita ketahui bahwa basmalah merupakan sebagian surat dari al-Fatihah, sehingga harus dibaca manakala membaca al-Fatihah dalam shalat. Dan juga basmalah disunnahkan untuk dikeraskan sebagaimana sunnahnya mengeraskan al-Fatihah dalam shalat jahriyyah ( shalat yang disunnahkan  untuk menegeraskan suara)”.[17]

C.3. Fatwa Persis

Ahmad Hassan membahas dan mendiskusikan persoalan bacaan basmalah ini dalam kumpulan fatwanya yang dihimpun, Soal Jawab tentang Berbagai Masalah Agama, pada jilid I halaman 95-103 beliau mengupas dan mendiskusikan serta mengkritik argumen berbagap pendapat yang ada seputar permasalahan itu. Di bagian akhirnya beliau berkesimpulan, basmalah wajib dibaca beserta al-Fatihah, bisa dengan nyaring bisa dengan pelan.[18]

C.4. Fatwa Perti ( KH Siradjudin Abbas ) :

“ Basmalah adalah termasuk ayat pertama surat al-Fatihah, membaca basmalah dalam al-Fatihah hukumnya wajib, dibaca keras dalam shalat jahriyyah dan dibaca pelan dalam shalat sirriyah. Jika basmalah tidak dibaca maka al-Fatihahnya sumbing, tidak sah, jika al-Fatihahnya tidak sah maka shalatnya juga tidak sah.”[19]

C.5. Fatwa MTA ( Majlis Tafsir Al-Qur`an)

Dalam buku Tuntunan Shalat terbitan Yayasan Majlis Tafsir Al-Qur`an halaman 54, tertulis :

“Dari riwayat-riwayat tadi bisa kita fahami bahwa bacaan basmalah itu kadang dibaca jahr (nyaring) sebagaimana diriwayatkan Daruquthni tadi, dan kadang dibaca sirr ( tidak nyaring) sebagaimana diriwayatkan  Ahmad dan Muslim tersebut”

Dari kutipan tersebut, dalam hal membaca basmalah dalam shalat ketika memulai al-Fatihah, MTA menganut paham tengah, yakni kadang mengeraskan basmalah dan kadang memelankan basmalah.

C.6. Pendapat Prof. Tengku Hasbi ash-Shiddieqy :

“ Maka apabila kita kumpulkan pendapat yang pertama dengan yang kedua, timbullah satu pengertian bahwa Nabi kadang kadang menjaharkan basmalah dan kadang-kadang tidak. Nabi SAW lebih banyak tidak menjaharkannya. Sekiranya Nabi SAW tetap menjaharkannya, tentulah para khulafaur Rasyidin mengetahuinya”.[20]

Dari berbagai kutipan pendapat ormas Islam dan ulama di Indonesia, kiranya berkembang dua paham dalam soal membaca basmalah ini, pendapat NU dan PERTI yang menyunnahkan dibaca keras jika al-Fatihah dibaca dengan keras, dan pendapat Muhammadiyah, PERSIS, MTA yang cukup fleksibel dengan memberi kebebasan imam untuk membaca pelan atau nyaring.

  1. D.       DALIL-DALIL MASING-MASING KELOMPOK DAN KRITIKANNYA [21]

Pendapat pertama, basmalah sunnah dibaca secara sirr ketika membaca al-Fatihah  dalam shalat. Pendapat yang dipegang oleh Imam Ahmad dan Imam Abu Hanifah dan Sufyan ats-Tsauri ini mengajukan beberapa dalil dari as-Sunnah seperti :[22]

Hadis Pertama :

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا كَانُوا يَفْتَتِحُونَ الصَّلَاةَ بِ { الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ } )صحيح البخاري – (3 / 186)

“ Dari Anas bin Malik, “ Bahwasanya Nabi SAW dan Abu Bakar, Umar radhiyallahu ‘anhuma mereka semua membuka (bacaan) shalat dengan alhamdulillahirabbil’alamin”. ( Sahih al-Bukhari : 3/186)

Hadis Kedua :

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْتَتِحُ الْقِرَاءَةَ بِ { الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ } سنن ابن ماجه – (3 / 40)

“ Dari Aisyah ia berkata, “ Bahwasanya Rasulullah SAW membuka bacaan shalat dengan alhamdulillahirabbil alamin. ( Sunan Ibnu Majah : 3/40 )

Hadis ini disahihkan oleh al-Albani dalam Sahih Wa Dha’if Sunan Ibnu Majah : 2/384.

Hadis ketiga :

عَنْ أَنَسٍ قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ فَلَمْ أَسْمَعْ أَحَدًا مِنْهُمْ يَقْرَأُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ)  صحيح مسلم – (2 / 361)

Dari Anas ia berkata:
“Saya shalat bersama Rasulullah SAW, Abu Bakar, Umar, dan Usman, dan saya tidak mendengar seorang pun dari mereka membaca Bismillahir-rahmanir-rahim”. ( Sahih Muslim : 2/361)

Sebuah atsar dari sahabat Ibnu Mas’ud :

لِقَوْلِ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَرْبَعٌ يُخْفِيهِنَّ الْإِمَامُ ، وَذَكَرَ مِنْهَا التَّعَوُّذَ وَالتَّسْمِيَةَ وَآمِينَ [23].

“ Perkataan Ibnu Mas’ud yang menyatakan : ada empat perkara yang dibaca pelan oleh imam yakni : disebutkan di antaranya bacaan ta’awudz, tasmiyah dan amin”.

Hadis-hadis di atas secara sharih menunjukkan bahwa Rasulullah SAW memulai bacaan dengan  al-hamdulillahi rabbil ‘alamin, basmalahnya dibaca secara sirr. Kesahihan riwayat di atas tidak perlu diragukan lagi, karena diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.

Pendapat kedua, menyatakan basmalah wajib dibaca beserta al-Fatihah secara keras (jahr) dalam shalat jahriyyah dan secara sirr dalam shalat sirriyyah. Imam asy-Syafi’i dan pengikutnya mengajukan sejumlah dalil dari as-Sunnah seperti :[24]

Hadis Pertama :

عَنْ نُعَيْمٍ الْمُجْمِرِ قَالَ صَلَّيْتُ وَرَاءَ أَبِي هُرَيْرَةَ فَقَرَأَ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ثُمَّ قَرَأَ بِأُمِّ الْقُرْآنِ حَتَّى إِذَا بَلَغَ { غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ } فَقَالَ آمِينَ فَقَالَ النَّاسُ آمِينَ وَيَقُولُ كُلَّمَا سَجَدَ اللَّهُ أَكْبَرُ وَإِذَا قَامَ مِنْ الْجُلُوسِ فِي الِاثْنَتَيْنِ قَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ وَإِذَا سَلَّمَ قَالَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنِّي لَأَشْبَهُكُمْ صَلَاةً بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ)  سنن النسائي – (ج 3 / ص 459) ,سنن الدارقطني – (ج 3 / ص 291)

مَ


“ Dari Nu’aim al-Mujmir ia berkata, “Aku shalat di belakang Abu Hurairah kemudian ia membaca Bismillahirrahmanirrahim, lalu membaca Ummul-Qur’an (Al-Fatihah) sampai beliau membaca : “Waladh-dhaallin”, beliau berkata : “Aamiin”. Maka manusia berkata (juga) : “Aamiin”. Dan beliau berucap setiap kali sujud : “Allahu Akbar”, dan ketika bangkit dari duduk raka’at kedua beliau berkata : “Allahu Akbar”. Dan apabila beliau salam maka beliau berkata : “Demi Yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya akulah di antara kalian yang paling serupa shalatnya dengan Rasulullah SAW” (Sunan an-Nasa`i : 3/459, Sunan ad-Daruquthni : 3/291)

Al-Albani menghukumi hadis tersebut dengan ungkapan :

تحقيق الألباني : ضعيف الإسناد[25]

Hadis ini menurut penuturan Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari adalah hadis terkuat tentang bacaan basmalah dalam shalat.[26]

Dalam Hasyiah as-Sindi terdapat penjelasan sebagai berikut :

قَوْله ( صَلَّيْت وَرَاء أَبِي هُرَيْرَة فَقَرَأَ بِسْمِ اللَّه الرَّحْمَن الرَّحِيم ) يَدُلّ عَلَى أَنَّ الْبَسْمَلَة تُقْرَأ فِي أَوَّل الْفَاتِحَة وَلَا يَدُلّ عَلَى الْجَهْر بِهَا وَآخِر الْحَدِيث يَدُلّ عَلَى رَفْع هَذَا الْعَمَل إِلَى النَّبِيّ صَلَّى اللَّه تَعَالَى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاللَّهُ تَعَالَى أَعْلَم . )شرح سنن النسائي – (2 / 152)

 “ Perkataan ‘ Aku shalat di belakang Abu Hurairah kemudian ia membaca bismillahirrahmanirrahim’ menunjukkan basmalah itu dibaca di awal al-Fatihah, namun tidak menunjukkan basmalah itu dibaca dengan keras. Akhir hadis tersebut menunjukkan bahwa perbuatan ini disandarkan pada Nabi SAW. Wallahu Ta’ala A’lam. ( Syarh Sunan an-Nasa`i : 2/152)

Hadis Kedua :

ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْتَتِحُ صَلَاتَهُ بْ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ)    سنن الترمذي – (1 / 414)

“ Dari Ibnu Abbas, bahwasanya Rasulullah SAW membuka (bacaan) shalat dengan bismillahirrahmanirrahim.” ( Sunan  at-Tirmidzi : 1/414).

 

Hadis ini dihukumi dha’if sanadnya oleh al-Albani dalam Sahih wa Dha’if sunan at-Tirmidzi  1/245.  Abu Dawud juga berkata, “ Hadis ini hadis dha’if.”[27]

 

 

Hadis Ketiga :

 

 

وقد أخرجه الحاكم في المستدرك عن ابن عباس بلفظ : كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يجهر ب { بسم الله الرحمن الرحيم } ، ثم قال : صحيح . )المستدرك على الصحيحين للحاكم – (ج 2 / ص 256)

Al-Hakim mengeluarkan dalam mustadraknya dari Ibnu Abbas dengan lafadz, “ Adalah Rasulullah SAW mengeraskan bacaan bismillahirrahmanirrahim”, lantas al-Hakim berkata, Sahih. ( al-Mustadrak ‘ala ash-Shahihain li al-Hakim : 2/256)

Pensahihan al-Hakim yang dikenal suka tasahul ( bermudah-mudah) dalam mensahihkan hadis dikoreksi oleh Ibnu Rajab dalam Fath al-Bari. Menurut Ibnu Rajab hadis ini adalah dha’if.[28]

Hadis Keempat :

عن أم سلمة زوج النبي صلى الله عليه وسلم ، قالت : « كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يقطع قراءته ( بسم الله الرحمن الرحيم ، الحمد لله رب العالمين ، الرحمن الرحيم ، مالك يوم الدين )المستدرك على الصحيحين للحاكم – (ج 7 / ص 36) شعب الإيمان للبيهقي – (ج 5 / ص 333)

“ Dari Ummi Salamah bahwasanya ia berkata, “ Adalah Rasulullah SAW memutus bacaannya bismillahirrahmanirrahim, alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ar-Rahmanirrahim, Malikiyaumiddin) (  al-Mustadrak ‘ala ash-Shahihain : 7/36, Syu’ab al-Iman li al-Baihaqi : 5/333).

Komentar ulama ahli hadis terhadap hadis tersebut. Menurut ad-Daruquthni isnadnya sahih, perawinya semuanya tsiqat. Al-Hakim berkata : Sahih menurut syarat dua imam (Bukhari-Muslim), pendapat ini disetujui adz-Dzahabi.  Ibnu Khuzaimah dan an-Nawawi juga mensahihkan hadis tersebut.[29]

Hadis ini hanya menceritakan bahwa Nabi SAW ada membaca basmalah, namun tidak ada indikasi atau keterangan bahwa beliau membacanya dengan keras.

Hadis Kelima :

عن أبي هريرة : «أنه صلى فجهر في قراءته بالبسملة ، وقال بعد أن فرغ : إني لأشبهكم صلاة برسول الله صلى الله عليه وسلم » ، أخرج النسائي في سننه ، وابن خزيمة ، وابن حبان في صحيحيهما ، والحاكم في المستدرك, وصححه الدارقطني ، والخطيب ، والبيهقي ، وغيرهم

“ Dari Abu Hurairah, bahwasanya ia melakukan shalat maka ia mengeraskan bacaan basmalahnya, lantas ia berkata setelah selesai shalat, “ Sungguh shalatku ini amat mirip dengan shalat yang dikerjakan Rasulullah SAW”. ( Dikeluarkan oleh Nasa`i dalam sunannya, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam sahihnya, al-Hakim dalam al-Mustadrak. Disahihkan oleh Daruquthni, al-Khatib, al-Baihaqi dan lain-lain.

Dalam penilaian Ibnu Taimiyyah, hadis-hadis yang menyatakan Nabi SAW ada mengeraskan basmalah derajatnya tidak meyakinkan. Hadis-hadis yang menyebutkan secara tegas bahwa Nabi ada mengeraskan bacaan basmalah semuanya dha’if bahkan ada yang maudhu’. Lebih lanjut ia mengutip pernyataan Imam ad-Daruquthni ketika ia telah selesai menghimpun hadis-hadis yang mengeraskan bacaan basmalah, ia ditanya, “ Adakah hadis sahih yang engkau temukan dalam hal ini?”. Ia menjawab, “ Adapun riwayat dari Nabi tak ada yang sahih, sedang riwayat dari sahabat ada sebagian yang sahih ada yang tidak.”[30]

Dalam tafsir Fath al-Qadir karya Imam asy-Syaukani disebutkan pada Juz 2/61:

قال ابن تيمية : وروينا عن الدارقطني أنه قال : لم يصح عن النبي صلى الله عليه وسلم في الجهر حديث

“ Berkata Ibnu Taimiyah : Kami meriwayatkan dari ad-Daruquthni bahwasanya ia berkata : “ Tak ada satupun hadis sahih dari Nabi SAW yang menerangkan bacaan basmalah dibaca keras”.

 

وقال الحازمي : أحاديث الجهر وإن كانت مأثورة عن نفر من الصحابة غير أن أكثرها لم يسلم من شوائب .[31]

“ Berkata al-Hazimi : Hadis-hadis yang menerangkan basmalah dibaca jahr meskipun berasal dari sekelompok sahabat Nabi SAW, namun mayoritas tidak lepas dari cacat”.

Pendapat ketiga,  menyatakan bahwa basmalah makruh dibaca beserta al-Fatihah dalam shalat fardhu baik secara pelan maupun keras, namun boleh dibaca dalam shalat sunat. Ini menjadi pegangan Imam Malik dan pengikutnya serta al-Auza’i. Untuk mendukung pendapatnya kelompok ini mengajukan dalil sebagai berikut :

Hadis Pertama :

عن أنس قال صليت مع النبي صلى الله عليه وسلم ومع أبي بكر وعمر رضي الله عنهما فافتتحوا ب ( الحمد لله رب العالمين ) .)  صحيح وضعيف سنن النسائي – (3 / 47) تحقيق الألباني : صحيح

 

“ Dari Anas ia berkata, “ Aku shalat beserta Nabi SAW, Abu Bakar, Umar RA mereka membuka bacaan dengan al-hamdulillahirabbil ‘alamin” ( Sunana an-Nasa`i : 3/47, menurut pentahqiqan al-Albani, hadis sahih)

 

Hadis Kedua :

 

عَنْ ابْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُغَفَّلٍ قَالَ سَمِعَنِي أَبِي وَأَنَا فِي الصَّلَاةِ أَقُولُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ فَقَالَ لِي أَيْ بُنَيَّ مُحْدَثٌ إِيَّاكَ وَالْحَدَثَ قَالَ وَلَمْ أَرَ أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ أَبْغَضَ إِلَيْهِ الْحَدَثُ فِي الْإِسْلَامِ يَعْنِي مِنْهُ قَالَ وَقَدْ صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَعَ أَبِي بَكْرٍ وَمَعَ عُمَرَ وَمَعَ عُثْمَانَ فَلَمْ أَسْمَعْ أَحَدًا مِنْهُمْ يَقُولُهَا فَلَا تَقُلْهَا إِذَا أَنْتَ صَلَّيْتَ فَقُلْ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ )سنن الترمذي – (ج 1 / ص 412)

 “ Dari Abdullah bin Mughaffal ia berkata, “ Ayahku mendengar aku mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, maka ayahku berkata,” Hai anakku ini termasuk sesuatu yang diada-adakan (muhdats), jauhilah perkara baru yang diada-adakan (bid’ah). Ayahku berkata, “ Aku tidak melihat seorang pun dari sahabat Nabi yang lebih benci kepada bid’ah dalam Islam. Sungguh aku telah shalat beserta Nabi SAW, Abu Bakar, Umar, Usman, maka aku tidak mendengar seorang pun mengucapkan basmalah, maka janganlah kamu mengucapkannya. Jika kamu shalat maka bacalah al-hamdulillahi rabbil ‘alamin”. ( Sunan at- Tirmidzi : 1/412, dan ia menghukumi hadis hasan)

Imam Nawawi dalam al-Khulashah , menurut penuturan Imam az-Zaila’i, mengomentari hadis ini dengan mengatakan, bahwa banyak huffadz yang mendha’ifkan hadis ini. Para huffadz itu juga menolak penghasanan yang dilakukan Imam at-Tirmidzi akan hadis ini. Huffadz yang dimaksud di antaranya Ibnu Khuzaemah, Ibnu ‘Abdil Barr, dan al-Khathib. Mereka berkata, “ Persoalannya berkisar pada Ibni Abdullah bin Mughaffal, dia itu majhul”.

قَالَ النَّوَوِيُّ فِي ” الْخُلَاصَةِ ” : وَقَدْ ضَعَّفَ الْحُفَّاظُ هَذَا الْحَدِيثَ ، أَنْكَرُوا عَلَى التِّرْمِذِيِّ تَحْسِينَهُ ، كَابْنِ خُزَيْمَةَ ، وَابْنِ عَبْدِ الْبَرِّ ، وَالْخَطِيبِ ، وَقَالُوا : إنَّ مَدَارَهُ عَلَى ابْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُغَفَّلٍ ، وَهُوَ مَجْهُولٌ ، انْتَهَى .) نصب الراية في تخريج أحاديث الهداية  – (2 / 227)

Tuduhan bahwa Ibnu Abdullah bin Mughaffal itu majhul ( tidak dikenal) dibantah oleh ulama lain bahwa yang dimaksud anak Abdullah bin Mughaffal adalah Yazid seperti yang dituturkan ole ath-Thabrani dan Ahmad, jadi tuduhan majhul itu sudah terjawab.[32]

Di akhir pembahasan, az-Zaila’i mengomentari hadis Tirmidzi dari Abdullah Mughaffal  yang dikritik sebagian ahli hadis  dengan perkataan :

 

وَبِالْجُمْلَةِ فَهَذَا حَدِيثٌ صَرِيحٌ فِي عَدَمِ الْجَهْرِ بِالتَّسْمِيَةِ ، وَهُوَ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ مِنْ أَقْسَامِ الصَّحِيحِ ، فَلَا يَنْزِلُ عَنْ دَرَجَةِ الْحَسَنِ ، وَقَدْ حَسَّنَهُ التِّرْمِذِيُّ .) نصب الراية في تخريج أحاديث الهداية  – (2 / 229)

Kesimpulannya, hadis ini secara terang menunjukkan tidak adanya mengeraskan bacaan basmalah, hadis itu jika tidak mencapai derajat sahih, namun tidak kurang dari derajat hasan, seperti telah dihasankan oleh at-Tirmidzi”. ( Nashb ar-Rayyah fi Takhrij al-Ahadits al-Hidayah : 2/229)

Hadis Ketiga :

عَنِ ابْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُغَفَّلٍ قَالَ كَانَ أَبُونَا إِذَا سَمِعَ أَحَدًا مِنَّا يَقُولُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ يَقُولُ إِهِي إِهِي صَلَّيْتُ خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ فَلَمْ أَسْمَعْ أَحَدًا مِنْهُمْ يَقُولُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ) مسند أحمد – (ج 41 / ص 500)

Dari Bani Abdullah bin Mughaffal mereka berkata, “ Adalah bapak kami jika mendengar salah seorang di antara kami mengucapkan bismillahirahmanirrahim, beliau berkata : ‘ Hai anakku, aku telah shalat di belakang Nabi SAW, Abu Bakar, dan Umar, maka aku tak pernah mendengar seorangpun yang membaca bismillahirrahmanirrahim”. (Musnad Ahmad : 41/500)

 

Hadis Keempat :

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّهُ حَدَّثَهُ قَالَ صَلَّيْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ فَكَانُوا يَسْتَفْتِحُونَ بِ { الْحَمْد لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ } لَا يَذْكُرُونَ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ فِي أَوَّلِ قِرَاءَةٍ وَلَا فِي آخِرِهَا )صحيح مسلم – (2 / 362)

“ Dari Anas bin Malik, “Saya shalat di belakang Nabi SAW, Abu Bakar, ‘Umar, dan Usman, mereka membuka dengan Alhamdulillaahir-rabbil-‘aalamiin; tidaklah mereka menyebutkan Bismillaahir-rahmaanir-rahiim di awalnya dan tidak pula di akhirnya”. ( Sahih Muslim : 2/362 )

Menarik untuk dikutip adalah pernyataan sekaligus pengakuan Imam ad-Daruquthni yang banyak menghimpun hadis-hadis yang mengeraskan bacaan basmalah, ketika ditanya beliau secara jujur berkata :

وَلِهَذَا قَالَ الدَّارَقُطْنِيّ إنَّهُ لَمْ يَصِحَّ فِي الْجَهْرِ بِهَا حَدِيثٌ ) نيل الأوطار – (ج 3 / ص 339)

 “ Tak satupun hadis yang menjelaskan mengeraskan bacaan basmalah itu sahih”. ( Nail al-Authar : 3/339)

Bahkan sebagian ulama tabi’in ada yang berpendapat, mengeraskan bacaan basmalah adalah bid’ah.[33]

Pendapat keempat;

Ada beberapa ulama yang berusaha mengkompromikan 2 pendapat di atas dengan dasar bahwa : Kadang Nabi menjaharkan basmalah dan kadang pula tidak. Dan ini pula yang menjadi pendapat Ibnul-Qayyim, walaupun beliau menyatakan bahwa tidak dijaharkan adalah lebih banyak  Pendapat ini pula yang dikuatkan oleh Syaikh Muqbil dan Syaikh Bin Baz (dalam ta’liq beliau terhadap Fathul-Bari).

Pendapat ini menggunakan thariqat al-jam’u wa at-taufiq ( metode mengumpul dan mengkompromikan) dari beberapa dalil yang berbeda. Metode ini adalah metode yang seyogyanya ditempuh pertama kali jika menemukan dalil yang sepintas terindikasikan ta’arudh atau bertentangan.

Di mata ulama kelompok ini, riwayat yang menjelaskan bahwa Nabi SAW pernah mengeraskan bacaan basmalah diakui dan diamalkan, namun riwayat yang mensirrkan basmalah dianggap lebih kuat dan lebih sering dilakukan oleh Nabi dan para sahabat. Agar tidak ada sunnah yang diabaikan atau ditinggalkan, maka diamalkan saja keduanya.[34]

Pendapat kelima :

Pada dasarnya pendapat kelima ini alasan yang dipakai hampir sama dengan pendapat keempat. Kedua riwayat dari Nabi itu sama-sama diakui sah berasal dari Nabi SAW maka dari itu keduanya sama saja untuk diikuti dan diamalkan.

  1. E.     KESIMPULAN

Dari uraian di atas yang menyebutkan beberapa dalil dan pendapat ulama’, maka yang terkuat insya Allah adalah pendapat Ibnu al-Qayyim CS yang menyebutkan bahwa terkadang Nabi SAW mengeraskan bacaan basmalah namun mensirrkannya lebih sering dan banyak. Adapun dalil yang menyatakan menjaharkan terus menerus, maka hadits itu adalah lemah, sebagaimana yang diakui sendiri oleh Imam ad-Daruquthni.[35] Kalaupun dianggap sahih, maka itupun tidak menunjukkan secara sharih (jelas) bahwa basmalah dijaharkan ketika shalat. Riwayat-riwayat itu hanya menyatakan bahwa basmalah ada dibaca oleh Nabi SAW dalam shalat.

Ash-Shan’ani penulis kitab Subul as-Salam condong kepada pendapat Ibnu al-Qayyim ini dengan mengatakan :

وَالْأَقْرَبُ أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْرَأُ بِهَا تَارَةً جَهْرًا ، وَتَارَةً يُخْفِيهَا. )سبل السلام – (ج 2 / ص 104)

“ Pendapat yang lebih dekat kepada kebenaran adalah bahwasanya Nabi SAW membaca basmalah secara jahr kadang-akadang, dan membaca dengan pelan di waktu lain”. ( Subul as-Salam : 2/104)

Ulama yang menguatkan pendapat ini di antaranya pada masa modern ini adalah Syaikh bin Baz :

ولا نعلم في الجهر بالبسملة حديثًا صحيحًا صريحا يدل على ذلك ، ولكن الأمر في ذلك واسع وسهل ولا ينبغي فيه النزاع وإذا جهر الإمام بعض الأحيان بالبسملة ليعلم المأمومون أنه يقرؤها فلا بأس ، ولكن الأفضل أن يكون الغالب الإسرار بها عملا بالأحاديث الصحيحة . ) فتاوى إسلامية – (ج 1 / ص 479)

“ Kami tidak mengetahui ada hadis yang sahih dan sharih mengenai mengeraskan basmalah yang menunjukkan atas itu. Namun dalam hal ini luas dan mudah, tidak seyogyanya dijadikan bahan pertikaian. Jika imam mengeraskan basmalah di suatu saat  supaya makmum tahu bahwa ia membacanya hal ini tidak apa-apa, namun yang lebih utama dan yang lebih sering adalah membacanya dengan pelan sebagai bentuk pengamalan terhadap hadis-hadis yang sahih “ ( Fatawa Islamiyyah : 1/479)

Pendapat senada dikemukakan oleh ulama kontemporer yang berpandangan seperti ini misalnya Syeikh Fauzan:

الجهر بالبسملة في الصلاة الجهرية إن فعله بعض الأحيان فلا بأس بذلك إلا أن المداومة عليه لا تنبغي، لأن الثابت من سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم وخلفائه الراشدين أنهم لا يجهرون ببسم الله الرحمن الرحيم، وأنهم يجهرون بقراءة الفاتحة في الصلاة الجهرية ويجهرون بالسورة بعد الفاتحة . أما بسم الله الرحمن الرحيم فلم يرد أنهم كانوا يجهرون بها دائمًا، فلا ينبغي المداومة على الجهر لها ولو فعلها بعض الأحيان فلا بأس بذلك .) المنتقى من فتاوى الفوزان – (ج 80 / ص 4)

“ Mengeraskan basmalah dalam shalat jahriyyah jika dilakukan kadang-kadang tidak ada masalah, kecuali jika dilakukan terus menerus maka sebaiknya tidak dilakukan. Karena yang tetap dari sunnah Nabi SAW dan Khulafaurrasyidin bahwasanya mereka tidak mengeraskan basmalah. Mereka mengeraskan bacaan al-Fatihah dalam shalat jahriyyah dan mengeraskan bacaan surat sesudah al-Fatihah. Adapun basmalah, maka tidak ada riwayat yang menerangkan mereka mengeraskan terus menerus, maka dari itu tidak seyogyanya terus menerus mengeraskan bacaan basmalah, namun jika sekali-kali mengeraskan maka yang demikian itu tidak apa-apa”. ( al-Muntaqa min Fatawa al-Fauzan : 80/4)

Dijelaskan pula dalam Fatawa al-Azhar :

ويمكن أن يقال : إن النبى صلى الله عليه وسلم كان يجهر بها أحيانا ، ويسر بها أحيانا أخرى ، وما دام الأمر خلافيا فلا يجوز التعصب لأى رأى . وأرى أن الإِتيان بها ينفع ولا يضر، وأن عدم الإِتيان بها لا يبطل الصلاة)  فتاوى الأزهر – (ج 8 / ص 489)

“ Dan mungkin dikatakan : Bahwa Nabi SAW mengeraskan basmalah di suatu waktu dan mensirrkannya di waktu yang lain. Sepanjang persoalan itu masalah khilafiyyah maka tidak boleh bersikap ta’ashub dengan pendapat manapun. Dan saya memandang, membaca basmalah itu ada manfaatnya dan tidak berbahaya, sebagaimana tidak membaca basmalah (dengan keras) juga tidak membatalkan shalat”. ( Fatawa al-Azhar : 8/489)

 

  1. F.           PENUTUP

Jika kita membaca kitab-kitab ushul fiqh, jika terdapat dua nash yang kelihatan kontradiktif, maka metode al-jam’u wat –taufiq adalah jalan yang pertama perlu ditempuh sebelum lari ke metode tarjih ( mengunggulkan salah satu). Dengan metode al-jam’u wat taufiq nyatalah pendapat Ibnu al-Qyyim yang paling pas untuk dipegang tanpa mengabaikan dan meremehkan pendapat kelompok lain.

Pendapat ini banyak memiliki kelebihan dan keluwesan. Pertama semua sunnah Nabi dapat diamalkan tanpa ada yang ditinggalkan. Kedua imam dapat lebih leluasa untuk menentukan sikap dengan mengingat dan memperhatikan kondisi/madzhab makmumnya. Ketiga tidak terjatuh dalam fanatisme paham yang sempit dan kaku. Apa yang dipilih dan dipegang oleh Muhammadiyah, Persis dan MTA menurut hemat penulis cukup bijak dan moderat sebagai bentuk kompromi dan jalan tengah adanya berbagai pendapat yang berbeda-beda.

Namun jika menggunakan perspektif tarjih, maka kiranya pendapat yang menyunnahkan basmalah dibaca sirr tampak lebih kuat dan meyakinkan. Sebagaimana hal ini dinyatakan oleh Syeikh Nashiruddin al-Albani dalam Tamam al-Minnah :

والحق أنه ليس في الجهر بالبسملة حديث صريح صحيح بل صح عنه صلى الله عليه وسلم الإسرار بها . )تمام المنة في التعليق على فقه السنة – (ج 1 / ص 169)

“ Pendapat yang benar, tidak ada hadis yang terang lagi sahih yang menerangkan basmalah itu dibaca keras, namun yang sah dari Nabi adalah membacanya dengan pelan” ( Tamam al-Minnah fi Ta’liq ‘ala Fiqh as-Sunnah : 1/169)

 

 


[1] Untuk mengetahui lebih dalam mengenai persoalan ini dapat dibaca , Abdurrahaman al-Jazairi, Kitab al-Fiqh ‘ala al-Madzhahib al-Arba’ah, Cet II,  Bairut : Dar al-Kutub al-‘ilmiyyah, 2004, hlm. 134-135. Juga Ash-Shabuni, Rawa`i’ul Bayan Tafsir Ayat al-Ahkam min al-Qur`an, Jilid I, hlm. 53-54.

[2] Lihat uraian dan pembelaan ulama madzhab Hanbali dalam persoalan ini melalui karya Ibnu Qudamah, al-Mughni :  2/340 dst.

[3] Uarain dan pembelaan dari ulama madzhab Hanafi dapat dibaca karya Ibnu al-Humam dalam Fath al-Qadir :  2/59 dst.

[4]  Periksa Ibnu Rusyd, Bidayat al-Mujtahid  : 1/102,  juga lihat Ihkamul-Ahkam :  1/421, Tafsir al-Qurthubi : 1/96.

[5] Lihat, al-Mughni : 2/240.

[6] Husain bin ‘Audah al-‘Awasyah dalam kitab al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Muyassarah fi Fiqh al-Kitab wa as-Sunnah al-Muthahharah, Cet. I,  Bairut : Dar Ibnu Hazm, 2002, Juz II, hlm. 24-27.

[7] Ibnu Katsir (701-774 H). Nama lengkapnya adalah Abul Fida’, Imaduddin Ismail bin Umar bin Katsir al-Qurasyi al-Bushrawi ad-Dimasyqi, lebih dikenal dengan nama Ibnu Katsir. Beliau lahir pada tahun 701 H di sebuah desa yang menjadi bagian dari kota Bashra di negeri Syam.

Selain Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, sejumlah tulisannya di antaranya adalah al-Bidayah Wa an-Nihayah yang berisi kisah para nabi dan umat-umat terdahulu, Jami’ Al Masanid yang berisi kumpulan hadits, Ikhtishar ‘Ulum al-Hadits tentang ilmu hadits, Risalah Fi al-Jihad tentang jihad dan masih banyak lagi. Ibnu Katsir meninggal dunia pada tahun 774 H di Damaskus dan dikuburkan bersebelahan dengan makam gurunya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.

[8] Urain panjang lebar seputar ini dari madzhab asy-Syafi’i dapat dibaca kitab al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab karya Imam an-Nawawi :  3/341 dst.

[9] Tafsir al-Baghawi : 1/ 51.

[10] Namun menurut penuturan Ibnu Katsir yang juga penganut madzhab asy-Syafi’i, berita yang lebih tetap bahwa khalifah yang empat mensirrkan bacaan basmalah.

[11] Al-Majmu’ : 3/341.

[12] Periksa Ibnu Rusyd, Bidayat al-Mujtahid :  I/102.

[13]Tafsir al-Baghawi : 1/ 51. Dalam tafsir Fath al-Qadir karya asy-Syaukani tidak menyebut Kufah, namun menyebut Syam. Fath al-Qadir : 1/1.

 

[14] Nail al-Authar :  3/327.

[15]  Nasb Rayyah fi Takhrij al-Ahadits al-Hidayah :  2/219

[16]  Tim PP Muhammadiyah Majlis Tarjjih, Tanya Jawab Agama  4, Cet. IV,  Yogyakarta : Suara Muhammadiyah, tt.,  hlm. 89. Lihat pula Tanya Jawab Agama  5, hlm. 191. Lihat juga Tanya Jawab Agama 2, hlm. 54. Baca pula Tanya Jawab Agama 1, hlm. 53-54. Lihat pula jawaban Pak AR Fahrudin tokoh ulama Muhammadiyah dalam Abdul Munir Mulkhan  (penyusun), Jawaban Kyai Muhammadiyah, Mengurai Jawaban Pak AR  dan 274 Permasalahan dalam Islam, Cet. II,  Yogyakarta : Kreasi Wacana, 2004,  hlm. 59.

[17] Muhyiddin Abdusshomad, Fiqh Tradisionalis, hlm. 95. Baca juga Bakhtiar Harmi dkk., Kiai NU tidak Berbuat Bid’ah, Cet. I,  Ponorogo : LTN NU Ponorogo bekejasama dengan Syiar Media Publishing, 2009, hlm.17-24. Lihat pula M. Abdul Mujib AS., 200 Soal Jawab Masalah Agama Keputusan Syuriah NU,  Cet. III,  Surabaya : Bintang Terang, 2004, hlm. 34-35. Baca pula Munawir Abdul Fattah, Tradisi Orang-Orang NU, Cet. IV,  Yogyakarta : Pustaka Pesantren, 2004, hlm.40-48.

[18] Ahmad Hassan, Soal Jawab tentang Berbagai Masalah Agama, Cet. XIII,  Bandung : Sinar Baru Algensindo, 2003 ,  jilid I, hlm.95-103.

[19] Lihat Siradjuddin Abbas, 40 Masalah Agama jilid I, hlm. 100.

[20] Hasby Ash-Shiddieqy, Pedoman Shalat,  Cet. 23,  Jakarta : Bulan Bintang, 1993, hlm.151, 204.

[21] Bagi pembaca yang ingin mendalami perbincangan seputar ini secara panjang lebar dengan penjelasan kualitas hadis-hadisnya, silakan baca (salah satunya) Nashbur Rayah fi Takhrij al-Ahadits al-Hidayah karya az-Zaila’iy bab Shifati Shalah :  2/264 dst.

[22] Uraian dan pembelaan dari madzhab Hanbali dapat membaca karya Ibnu Qudamah, al-Mughni : 2/340 . Uraian tentang dalil-dalil dan kualitas hadisnya dapat dibaca dalam karya az-Zaila’i Nashb ar-Rayah fi Takhrij ahadits al-Hidayah : 2/223 dan seterusnya.

[23]   Nashb ar-Rayah fi Takhrij Ahadits al-Hidayah : 2/210.

[24]  Pemegang pendapat ini secara lebih gamblang dan detail dapat membaca uraian dan pembelaan dari ulama terkemuka madzhab asy-Syafi’i yakni Imam an-Nawawi dalam kitabnya al-Majmu’ Syarh al-Muhaddzab Juz 3 /333 dst. Hadis-hadis yang dikemukakan untuk mendukung pendapat ini cukup banyak, untuk lebih lengkapnya dapat dibaca uraian dan penjelasan kualitas hadis tersebut dalam karya az-Zaila’i, Nasb Ar-Rayyah Fi Takhrij Al-Ahadits Al-Hidayah : 2/212 dan seterusnya.

[25] Sahih wa Dha’if Sunan An-Nasa`i :  3/49

[26] Fath al-Bari :  3/162.

[27] Al-Musnad al-Jami’ : 19/54.

[28]  Lihat  Fath al-Bari Li Ibni Rajab : 5/196. Lihat juga uraian penulis kitab Misykat Al-Mashabih Ma’a Syarhihi Mir’at Al-Mafatih : 3/307.

[29] Lihat Irwa` al-Ghalil :  2/60.

[30] Lihat Ibnu Taimiyah, Majmu’ Fatawa :  5/164.

[31]  Fath al-Qadir: 2/61

[32] Lihat al-Jami’ Li Ahkam ash-Shalah : 2/193.

[33] Lihat al-Majmu’ : 3/343

[34] Sikap seperti ini cukup bijak dan pas buat dilakukan dan disosialisasikan di tengah-tengah masyarakat. Namun orang awam kadang sering salah paham, dikiranya orang yang mengamalkan dua-duanya itu tidak punya prinsip dan pendirian alias dianggap ‘ela-elu’. Padahal hal ini dilakukan dengan metode al-jam’u wa at-taufiq, satu metode yang semestinya ditempuh pertama kali ketika menghadapi beberapa riwayat yang bertentangan.

[35] Lihat pernyataan Imam ad-Daruquthni misalnya Nail al-Authar :  3/339. Al-Majmu’ : 3/343.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s