METODE PENULISAN USHUL FIQH

KAJIAN KOMPARATIF :

METODE PENULISAN USHUL FIQH THARIQAH  MUTAKALLIMIN , HANAFIYAH DAN GABUNGAN

Oleh : Ali Trigiyatno[1]

 

Abstrak :

Sekurang-kurangnya ada tiga metode penulisan kitab Ushul Fiqh yang dianut oleh ushuliyyun yakni metode Hanafiyah ( fuqaha`), Syafi’iyyah ( mutakallimun ) dan metode gabungan ( thariqat al-Jam’i). Ketiga metode tersebut tetap eksis dengan sederet kitab ushul al-fiqh yang dihasilkan. Thariqah Hanafiyah memiliki sejumlah kelebihan seperti kaya akan furu’, lebih mampu berdialog dengan realitas, tidak bertele-tele dengan perdebatan dan pembahasan kalam-filososfis. Sedang kelemahannya dapat disebutkan sebgaian seperti agak fanatik dengan madzhab yang dianut. Sementara thariqah Syafi’iyyah memiliki sejumlah kelebihan seperti tidak fanatik terhadap imam madzhabnya, lebih bersiaft dialogis-argumentatif. Namun kekurangannya terlalu dalam dalam perdebatan yang bersifat kalam-filosofis dan kurang disertai contoh aplikatif dalam masalah furu’. Sementara thariqah al-jam’i pada umumnya mampu mengatasi kekurangan kedua metode tersebut.

 

Kata Kunci :

Ushul Fiqh, Tharaiqah al-Fuqaha`, Thariqah Mutakallimin, Thariqat al-Jam’i, furu’

PENDAHULUAN

Keragaman dan perbedaan adalah suatu hal yang lekat dalam kehidupan umat manusia. Tidak hanya dalam hal fisik umat manusia berbeda seperti dalam hal warna kulit, bentuk tubuh, rambut, mata dan sebagainya, namun perbedaan dalam hal budaya, pemikiran, pendapat, nilai-nilai, pandangan hidup juga mudah ditemukan. Perbedaan pendapat, metode, paradigma dalam dunia ilmu juga tak terelakkan terjadi, tak terkecuali dalam lapangan hukum Islam (fiqih) termasuk ushul fiqhinya.

Membaca kitab-kitab ushul fiqh dari masa klasik hingga modern terasa asyik dan menyenangkan sekaligus juga terkadang membingungkan. Hal ini dikarenakan kita menjumpai model-model penulisan yang tidak seragam. Ada yang sederhana, luas bahkan terkesan bertele-tele,  ada pula yang  singkat bahkan terlalu singkat unutk ukuran sebuah kitab yang untuk memahaminya diperlukan penjelasan yang cukup terutama bagi pelajar pemula.

Dalam dunia penulisan ushul fiqh, kita dikenalkan sekurangnya tiga thariqah atau metode penulisan yakni thariqah mutkallimin, thariqah fuqaha` atau Hanafiyah dan thariqah al-jam’u atau gabungan dari dua thariqah. Model-model penulisan tersebut hingga sekarang masih mudah dapat kita jumpai. Seperti apa karakteristik masing-masing, serta apa kelebihan dan kekurangan masing-masing, makalah singkat ini akan mencoba memaparkannya.

 Ushul Fiqh; Pengenalan Selintas

 

Pengertian Ushul Fiqh dapat dilihat sebagai rangkaian dari dua kata, yaitu  kata Ushul dan  Fiqh. Ditilik dari tata bahasa Arab, rangkaian kata Ushul dan kata Fiqh tersebut dinamakan dengan tarkib idlafah, sehingga dari rangkaian dua buah kata itu memberi pengertian ushul bagi fiqh. [2]

Kata Ushul adalah bentuk jamak dari kata ashl yang menurut bahasa berarti :

الْأَصْلُ مَا يُبْتَنَى عَلَيْهِ غَيْرُه

“ sesuatu yang dijadikan dasar bagi yang lain ”.[3]

Berdasarkan pengertian Ushul menurut bahasa tersebut, maka Ushul Fiqh berarti sesuatu yang dijadikan dasar bagi fiqh.[4]

Memperhatikan pengertian ashl seperti di atas, dapat disimpulkan bahwa Ushul Fiqh sebagai rangkaian dari dua kata ( idhafah ), secara sederhana berarti dalil-dalil bagi fiqh atau dapat juga dikatakan ketentuan-ketentuan umum bagi fiqh.  Sementara Fiqh itu sendiri menurut bahasa, berarti paham atau tahu tahu secara mendalam.

Adapun secara istilah fiqh didefinisikan oleh para ahli ushul dengan           “Ilmu tentang hukum-hukum syara’ mengenai     perbuatan dari dalil-dalilnya yang terperinci.”[5]  Dengan redaksi yang kurang lebih sama  seperti dikatakan oleh         Abdul Wahab Khallaf, fiqih memiliki pengertian  yakni:
“Kumpulan hukum-hukum syara’ mengenai perbuatan dari dalil-dalilnya yang terperinci”.[6] Yang dimaksud dengan dalil-dalilnya yang terperinci, ialah bahwa satu persatu dalil, baik dari al-Qur`an maupun al-Hadis menunjuk kepada suatu hukum tertentu, seperti firman Allah menunjukkan kepada kewajiban shalat.[7]

Dengan penjelasan pengertian fiqh seperti tersebut  di atas, maka pengertian Ushul Fiqh sebagai rangkaian dari dua buah kata, yaitu dalil-dalil bagi hukum syara’ mengenai perbuatan dan aturan-aturan/ketentuan-ketentuan umum bagi pengambilan hukum-hukum syara’ mengenai perbuatan dari dalil-dalilnya yang terperinci.

Ahli ushul fiqh dalam mendefinisikan pengertian ushul fiqh tidak jauh berbeda dari pengertian bahasa di atas.  Sebut saja  misalnya pakar    ushul fiqh kontemporer                 Abdul Wahhab Khallaf memberi definisi  atau         pengertian Ilmu Ushul Fiqh dengan:
“Ilmu tentang kaidah-kaidah dan pembahasan-pemhahasan yang dijadikan sarana untuk memperoleh hukum-hukum syara’ mengenai perbuatan dari dalil-dalilnya yang terperinci.[8]

Maksud dari kaidah-kaidah itu dapat dijadikan sarana untuk memperoleh hukum-hukum syara’ mengenai perbuatan, yakni bahwa kaidah-kaidah tersebut merupakan cara-cara atau jalan-jalan ( masalik ) yang harus ditempuh oleh mustanbith untuk memperoleh hukum-hukum syara’; sebagaimana dapat ditemukan dalam rumusan pengertian Ilmu Ushul Fiqh yang dikemukakan oleh al-‘Allamah Muhammad Abu Zahrah dalam kitab ushul fiqhnya sebagai berikut :
“Ilmu tentang kaidah-kaidah yang menggariskan jalan-jalan utuk memperoleh hukum-hukum syara’ mengenai perbuatan dan dalil-dalilnya yang terperinci.”[9]
Lebih jauh Muhammad Abu Zahrah menjelaskan  bahwa Ilmu Ushul Fiqh adalah ilmu yang menjelaskan jalan-jalan yang ditempuh oleh imam-imam mujtahid dalam mengambil hukum dari dalil-dalil yang berupa nash-nash syara’ dan dalil-dalil yang didasarkan kepadanya, dengan menentukan  ‘illat yang dijadikan dasar ditetapkannya hukum serta kemaslahatan-kemaslahatan yang dikehendaki oleh syara’. Oleh karena itu Ilmu Ushul Fiqh dapat juga dikatakan dengan redaksi lain :
“Kumpulan kaidah-kaidah yang menjelaskan kepada faqih (ahli hukum Islam) cara-cara mengeluarkan hukum-hukum dari dalil-dalil syara’.”[10]

Sejarah ringkas perkembangan ilmu ushul fiqh [11]

Ilmu ushul fiqh pada dasarnya lahir bersamaan dengan kelahiran ilmu fiqh itu sendiri. Karena ilmu fiqh muncul mutlak memerlukan metodologi tertentu yang di belakang hari lazim di sebut dengan ushul fiqh, walau harus ditegaskan kemunculan fiqh lebih dahulu muncul dibanding kemunculan ilmu ushul fiqh itu sendiri.

Embrio ilmu ushul muncul pada abad II H itupun masih bercampur dengan ilmu fiqh. Pada masa sebelumnya, yakni masa Rasulullah SAW, kehadiran ilmu ini dirasa belum diperlukan, karena dalam hal menetapkan hukum Rasulullah SAW mendasarkan atas wahyu yang diterima serta dikuatkan dengan ijtihad fitrinya tanpa memerlukan dasar-dasar dan kaidah-kaidah untuk mengistimbathkan hukum. Sepeninggal Rasulullah SAW, para sahabat dengan bekal penguasaan bahasa Arab yang dalam serta pengetahuan dan pengalaman bersama Rasulullah SAW, pengetahuan tentang asbab an-nuzul dan asbab al-wurud, serta pengetahuan seputar maqashid asy-syari’ah, mereka mengistimbathkan hukum walau belum secara sistematis seperti yang tersusun dalam ilmu ushul fiqh seperti sekarang ini.[12]

Pada masa tabi’in, tabi’it-tabi’in dan para imam mujtahid, di sekitar abad II dan III H wilayah kekuasaan Islam berkembang semakin luas, merambah daerah-daerah yang dihuni oleh orang-orang yang bukan bangsa Arab yang dengan sendirinya juga tidak berbahasa Arab dan beragam pula situasi dan kondisinya serta adat istiadatnya. Dengan semakin tersebarnya agama Islam di kalangan penduduk dari berbagai daerah tersebut, menjadikan semakin kompleks persoalan-persoalan hukum yang timbul yang belum dijumpai ketentuan hukum sebelumnya. Untuk itu para ulama yang tinggal di berbagai daerah itu berusaha mengistinbathkan hukum guna mengisi kekosongan hukum itu.[13]

Dari waktu ke waktu  persoalan-persoalan hukum yang timbul semakin banyak dan kompleks, sementara di sisi lain  kemajuan ilmu pengetahuan dalam berbagai bidang juga  berkembang dengan pesat yang terjadi pada masa ini, kegiatan ijtihad pun dituntut untuk mampu merespon mengimbangi perkembangan tersebut. Pada waktu yang bersamaan  pada masa ini juga semakin banyak terjadi perbedaan dan perdebatan antara  ulama yang satu dengan yang lain  mengenai metode dan hasil hasil ijtihad. Fakta-fakta di atas mendorong para ulama ushul untuk perlu menyusun kaidah-kaidah syari’ah yakni kaidah-kaidah yang bertalian dengan tujuan dan dasar-dasar syara’ dalam menetapkan hukum atau istinbath. [14]

Di samping itu,  dengan semakin meluasnya wilayah kekuasan Islam dan banyaknya penduduk Ajam ( non Arab ) memeluk agama Islam, maka terjadilah pergaulan antara orang-orang Arab dengan mereka. Dari pergaulan ini membawa akibat terjadinya penyusupan bahasa-bahasa mereka ke dalam bahasa Arab, baik dalam hal  ejaan, mufradat maupun dalam susunan kalimat, baik dalam bentuk ucapan maupun dalam tulisan. Hal  demikian itu, tidak sedikit menimbulkan keraguan, kesamaran dan kemungkinan-kemungkinan kesalahan dalam memahami nash-nash syara’ yang ditulis dalam bahasa Arab yang fasih. Hal ini menantang  para ulama untuk menyusun kaidah-kaidah kebahasaan  (lughawiyah ), agar dapat memahami nash-nash syara’ sebagaimana dipahami oleh orang-orang Arab tatkala turun atau datangnya nash-nash tersebut. Dengan disusunnya kaidah-kaidah syar’iyah dan kaidah-kaidah lughawiyah  pada abad II H, maka telah lahirlah sebuah ilmu yang dikenal dengan nama  Ilmu Ushul Fiqh. [15]

Aliran-Aliran dalam Penulisan Kitab Ilmu Ushul Fiqh

Penerapan ushul-fiqh sering direpotkan masalah ketika ushuliyun akan membuat fiqh, terutama ketika mencari bentuk aliran, apakah ushul-fiqh aliran rakyu atau aliran mutakallimin. Dua aliran ini, secara etimologis memang berbeda secara prinsip dan mendasar. Keduanya memiliki implikasi metodologis yang berbeda terutama jika dikaitkan dengan masalah furu’.

Rakyu atau metode fuqaha`/Hanafiyah adalah aliran dalam ushul-fiqh yang teori-teorinya dibangun atau disusun sesudah fiqh terbentuk. Artinya, mujtahid ini mengamati perilaku orang-orang mukallaf yang ada pada masyarakat, kemudian dia memproduksi fiqh secara induktif. Dapat juga dijelaskan, teori atau kaidah ushul versi aliran ini bertolak dari furu’ terlebih dahulu yang telah diwarisi dari imam pendahulu baru kemudian disusunlah kaidah atau teori yang relevan dengan masalah furu’ yang telah ditetapkan tadi. Karena itu wajarlah, apabila ‘urf (tradisi), mashalih al-mursalah, dan istihsan dijadikan sebagai landasan  hukum fiqh. Dalil-dalil ini, biasanya dirumuskan berdasarkan istiqra` (penelitian) untuk mencari bentuk fiqh. Ushul fiqh aliran ini lazim dianut oleh fuqaha`  Madzhab Hanafi, sebagian Madzhab Maliki, dan Mu’tazilah.[16]

Sebaliknya, jika ushuliy  itu menyusun ushul fiqh terlebih dahulu, kemudian memproduksi fiqh berdasarkan ushul fiqh tadi, berarti ushul fiqh ini disebut aliran mutakallimin. Aliran ini berfikir deduktif, dengan berusaha menyesuaikan perilaku mukallaf (af’al al-mukallafin) kepada teori-teori ushul-fiqh tadi. Model semacam ini dipakai antara lain oleh kebanyakan fuqaha` Madzhab Syafi’iy, Madzhab Hanbali, Madzhab Zhahiri, dan Madzhab Syi’ah Itsna Asyariyah. Kelompok  ini dalam menetapkan ushul fiqhnya tidak  memakai ‘uruf, mashalih al-mursalah, dan istihsan, karena semua dalil ini dianggap dapat bertentangan dengan qiyas umum  (qiyas ‘am).  Sebagai gantinya, kelompok ini menggunakan istishhab sebagai salah satu dalil tambahan.[17]

Ushul fiqh model ini agak sempit dan seperti membatasi diri pada kondisi lapangan tertentu, terutama jika kita melihat perkembangan kehidupan yang cepat berubah. Akibatnya, teori-teori ushul-fiqh hanya terpaku pada pemahaman dasar (al-Qur’an, al-Hadits, al-Ijma’ dan al-Qiyas) dan beberapa dalil yang berorientasi ke belakang seperti istishhab, dan syar’u man qablana. Dengan kata lain, ada kelemahan bagi aliran ini, yaitu kurang menghargai fenomena dan realitas. Berbeda dengan aliran rakyu yang menggunakan dalil ‘uruf dan istihsan, bisa masuk ke dalam rangka (a) Ushuliyun bisa mengolah semua permasalahan yang muncul di tengah masyarakat dengan teori-teori ushulfiqhnya. (b) Ushuliyun bisa berhubungan langsung secara akrab dengan masyarakat yang memakai madzhab tertentu (c) Ushuliyun dapat menguraikan latar belakang secara penuh, sehingga uraian fiqhnya bisa mengangkat dalil-dalil kulli dengan meninggalkan dalil juz’iy yang sama-sama zhanni.[18]

Untuk lebih jelasnya, berikut akan kami paparkan karakteristik dan perbedaan masing-masing dari kecenderungan dua aliran ini.

 1. Aliran Mutakallimin [19]

Seperti telah dikemukaan di muka, penulisan ushul fiqh menurut Thaha Jabir al-‘Alwani pada umumnya mengikuti salah satu dari dua pola yakni metode Syafi’iyyah atau metode mutakallimin dan Hanafiyah atau Fuqaha`. Metode ini biasanya diikuti fuqaha` Syafi’iyyah, Malikiyyah, Hanabilah dan Mu’tazilah.[20] Disebut metode mutakallimin karena para penulis ushul jenis ini dalam pembahasannya menyinggung sebagian masalah-masalah teologis dan filosofis seperti pembahasan mengenai persoalan baik dan buruk (The Good and the Reprehensible ), hukum asal sebelum turunnya wahyu syara’ (The Legal Status of Matters Prior to the Revelation of Shari’ah ), kewajiban syukur kepada sang pemberi nikmat (The Necessity of Gratitude to the Bestower ), dan persoalan siapakah al-Hakim itu ( The Possessor of Sovereignty ). Alasan lain disebutnya aliran ini dengan metode mutakallimin adalah penggunaan metode deduktif dalam mendefinisikan dasar-dasar dari sumber metodologi, memastikan validitas dari prinsip-prinsip itu, dan dalam hal menolak pendapat-pendapat lain yang berbeda tanpa terpengaruh dengan masalah furu’ yang berasal dari penerapan kaidah ini.[21]

Dari berbagai sumber, penulis  dapat menyimpulkan  beberapa ciri dari metodologi yang diterapkan ulama ushul versi  Mutakallimin adalah sebagai berikut :

1. Aliran ini  mengembangkan penulisan Ushul Fiqih dengan memasukkan beberapa obyek pembahasan Ilmu Kalam, seperti yang kita dapati di  dalam muqaddimah “ Al Mustashfa “ karya Al Ghazali.

2. Para penulis metodologi ini, kebanyakan di samping ahli ushul fiqh  juga tokoh-tokoh Ilmu Kalam, yang diwakili oleh ulama-ulama Asy ‘ariyah seperti Qodhi Al Baqillani dengan kitabnya,”  At Taqrib wal Irsyad “ , dan Imam al-Haramain dengan kitabya “ Al Burhan “  dan  diwakili juga oleh ulama-ulama Mu’tazilah seperti :  Qadhi Abdul Jabar dengan bukunya  “ Al Ahdu “ , dan Abul Hasan Al Bashri dengan bukunya “ Al Umdah “ .

3. Dalam penulisan Ilmu Ushul Fiqh, mereka terlalu berlebihan di dalam menggunakan dalil-dalil akal serta banyak larut dalam perdebatan untuk menunjukkan kelemahan argumen atau pendapat lawan-lawannya seperti dapat dibaca dalam karya al-Amidi dengan al-Ihkamnya.

4. Terlalu banyak berkutat pada teori-teori belaka, dan sedikit mengaplikasikannya di dalam masalah-masalah furu’ amaliyah

Sebagai bahan perbandingan, rasanya perlu juga diungkapkan suatu analisis lain akan ciri-ciri manhaj mutakallimin dalam penulisan ushul fiqh sebagai berikut :

1.  Metode ini lebih memusatkan diri pada kajian teoritis murni untuk menciptakan kaidah-kaidah ushul yang kokoh, walaupun kaidah yang dibuat  itu boleh jadi  tidak mendukung madzhab fiqh penulisnya.

2. Dalam mengkaji dan menetapkan kaidah ushul, metode ini sangat menekankan pada kajian bahasa Arab yang mendalam, menggunakan dalalah (indikator) yang ditunjukkan oleh lafazh kata atau kalimat, logika akal, dan pembuktian dalil-dalilnya.

3.  Metode ini boleh dikata terlepas dari pembahasan cabang-cabang fiqh atau masalah furu’iyyah dan fanatisme madzhab tertentu, jika masalah furu’  disebutkan tidak lain hanyalah sebagai contoh penerapan saja.

4. Metode ini  sering  menggunakan gaya dialog atau perdebatan ilmiah. Ungkapan yang sering kita jumpai misalnya ungkapan:

فإن قلتم… قلنا

“Jika Anda mengatakan…, maka kami jawab …”

Tak dapat dipungkiri, aliran mutakallimin memiliki sejumlah keunggulan. Kelebihan-kelebihan dari aliran mutakallimin menurut Abdul Karim Zaidan adalah sebagai berikut :

  1. Kecenderungan pada penggunaan/istidlal dengan akal.
  2. Tidak fanatik kepada madzhab tertentu.
  3. Sedikit menampilkan masalah-masalah furu’ fiqhiyah, jika menyebutkan hanya sekedar memberikan contoh saja.[22]

Selanjutnya marilah kita tengok kitab apa saja yang disusun oleh penulisnya yang menggunakan metode atau thariqah al-mutakallimin ini. Di antara kitab-kitab klasik atau periode awal Ilmu Ushul Fiqh yang disusun  dalam aliran ini, dapat disebutkan sebagian di antaranya yaitu : [23]

  1. Kitab Al-Mu’tamad yang disusun oleh Abdul Husain Muhammad bin Aliy al-Bashriy al-Mu’taziliy asy-Syafi’iy (w. 463 H).
  2. Kitab Al-Burhan disusun oleh Abdul Ma’aliy Abdul Malik bin Abdullah al-Jawainiy an-Naisaburiy asy-Syafi’iy yang terkenal dengan nama Imam Al-Haramain ( w. 487 H).
  3. Kitab  alMushtashfa disusun oleh Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al Ghazaliy Asy Syafi ‘ iy ( w. 505 H).
  4. Al-‘Umad karya al-Qadhi Abdul Jabbar ( w. 415 H)

Empat kitab di atas pada dasarnya adalah induk dari kitab-kitab ushul fiqh yang disusun dengan metode mutakallimin. Kitab-kitab ushul yang ditulis berikutnya yang menempuh metode ini banyak merujuk atau mengembangkan dari salah satu dari empat di atas. Dua orang ulama berikutnya berhasil menggabungkan dan meringkas kitab ushul di atas yakni Imam Fakhruddin ar-Razi dengan nama al-Mahshul dan al-Amidi dengan al-Ihkam fi Uhul al-Ahkam.[24]

Dari empat kitab tersebut, pada dasarnya yang dapat ditemui secara utuh hanyalah kitab Al-Mushtshfa  karangan al-Ghazali, sedangkan dua kitab lainnya hanya dapat dijumpai nukilan-nukilannya yang tercecer dalam kitab yang disusun oleh para ulama berikutnya, seperti nukilan kitab dari Al Burhan oleh Al-Asnawiy dalam kitab Syarhul Minhaj.[25] Kitab-kitab yang datang berikutnya yakni kitab Al-Mahshul disusun oleh Fakhruddin Muhammad bin Umar Ar Raziy Asy Syafi’iy (w. pada tahun 606 H). Kitab ini merupakan ringkasan dari tiga kitab yang disebutkan di atas ( selain al-‘Umad). Kitab Al-Mahshul ini dalam perkembangannya diringkas lagi oleh dua orang yaitu :

  1. Tajuddin Muhammad bin Hasan Al Armawiy (w. 656 H ) dalam kitabnya yang diberi nama AlHashil.
  2. Mahmud bin Abu Bakar A1 Armawiy (w. 672 H ) dalam kitabnya yang berjudul At-Tahshil. [26]

Berikutnya datang Al-Qadliy Abdullah bin Umar Al-Baidlawiy (w. pada tahun 675 H) menyusun kitab Minhajul Wushul ila ‘Ilmil Ushul yang isinya disarikan dari kitab At-Tahshil. Akan tetapi karena terlalu ringkasnya isi kitab tersebut, maka sulit untuk dicerna dan dipahami. Hal ini rupanya mendorong para ulama berikutnya untuk menjelaskan atau membuat syarhnya. Di antara ulama tersebut adalah  Abdur Rahim bin Hasan Al-Isnawiy Asy Syafi’iy (w. pada tahun 772 Hjjriyah) dengan menyusun sebuah kitab yang menjelaskan isi kitab MinhajuI WushuI ila ‘Ilmil Ushul tersebut. [27]

Selain kitab AlMashul yang merupakan ringkasan dari kitab-kitab Al-Mu’tamad, Al Burhan dan Al Mushtashfa, masih ada kitab yang juga merupakan ringkasan dari tiga kitab tersebut, yaitu kitab Al-Ihkam fi Ushulil Ahkam. Penulisnya adalah  Abul Hasan Aliy yang terkenal dengan nama Saifuddin Al Amidiy Asy Syafi’iy (w. 631 H).  Kitab Al-Ihkam fi Ushulil Ahkam yang cukup tebal ini  kemudian diringkas kembali oleh Abu Amr Utsman bin Umar yang terkenal dengan nama Ibnul Hajib Al-Malikiy (w. 646 H ) dengan kitabnya yang diberi nama Muntahal Su’uli wal Amal fi ‘Ilmil Ushul wal Jidal. Aktifitas ringkas meringkas tidak berhenti sampai di sini, seterusnya kitab itu beliau ringkas lagi dalam sebuah kitab, dengan nama Mukhtasharul Muntaha.[28]  Kitab ini mirip dengan kitab Minhajul Wushul ila ‘Ilmil Ushul, sulit difahami saking ringkasnya. Tak aneh jika para ulama berikutnya terpanggil buat membuat syarahnya. Sebut saja salah satunya  ialah ‘ Alauddin ‘Abdur Rahman bin Ahmad Al Ajjiy (w. 756 H ) dengan menyusun sebuah kitab yang menjelaskan kitab Mukhtasharul Muntaha tersebut.

Demikianlah sekelumit penjelasan mengenai thariqah al-Mutakallimin dalam menuliskan kitab ushul fiqh beserta contoh kitab-kitab yang ditulis dengan metode tersebut. Selanjutnya kita simak uraian thariqah yang ke dua yakni thariqah al-Fuqaha` atau Hanafiyah.

2. Aliran Hanafiyah. [29]

Menurut penjelasan Thaha Jabir al-Alwani dalam bukunya Usul Al Fiqh Al Islami Source Methodology In Islamic Jurisprudence:Methodology For Research And Knowledge  menyatakan, metode Hanafiyah dalam menulis ushul fiqh menyusunnya dengan terlebih dahulu merujuk pada furu’ imamnya baru kemudian menetapkan kaidah-kaidahnya. Jadi studinya ditujukan untuk menguatkan furu’ imamnya dan bukan sebaliknya. Jadi, siapa saja yang mempelajari ushul fiqh dari aliran ini akan menjumpai masalah furu’ yang telah ditetapkan oleh Imam Abu Hanifah baru kemudian menganalisisnya kemudian menetapkan kaidah yang pas buat fatwa   tersebut. Contoh kaidah dalalah ‘am adalah qath’iy ditarik dari furu’ atau fatwa dari Imam Abu Hanifah bahwa membaca al-Fatihah dalam salat tidaklah wajib, yang wajib adalah membaca sesuatu dari al-Qur`an tidak harus al-Fatihah sebagaimana ditetapkan dalam hadis ahad, sementara ayat al-Qur`an hanya menyuruh membaca sesuatu yang mudah dari al-Qur`an. [30]

Memang, dapat disimpulkan metode ini banyak dipengaruhi oleh furû‘ yang telah ada. Bahkan tak jarang kaidah diciptakan untuk membenarkan atau menguatkan hukum-hukum fikih dalam madzhabnya. Seperti kaidah yang mengatakan bahwa lafal khusus adalah mubayyan, dalalah-nya lafal umum adalah qath‘iy, mafhûm mukhâlafah adalah hujjah, dan lain sebagainya. [31]

Selanjutnya dapat dijelaskan, metode ini memiliki sejumlah karakter sebagai berikut:

Pertama: Keterkaitan erat antara Ushul Fiqh dengan masalah cabang-cabang fiqh di mana ia dijadikan dalil dan sumber utama kaidah-kaidah ushul yang mereka buat. Apabila ada kaidah ushul yang bertentangan dengan ijtihad fiqh para imam dan ulama madzhab Hanafi, mereka menggantinya dengan kaidah yang sesuai. Dus ini berarti kaidah ushul ditetapkan untuk ‘mengabdi’ pada furu’ yang sudah ada.

Kedua: Dapat dikatakan tujuan utama dari metode ini adalah mengumpulkan hukum-hukum fiqh hasil ijtihad para ulama madzhab Hanafi dalam kaidah-kaidah ushul.

Ketiga: Metode ini terlepas dari kajian teoritis dan lebih bersifat praktis, yakni mengokohkan dan membela ketetapan fiqh yang dibuat imamnya.

 Munculnya metode ini dapat dimengerti  mengingat para imam madzhab Hanafi tidak meninggalkan kaidah ushul yang terkumpul dan tertulis bagi murid-murid mereka sebagaimana yang diperbuat oleh Imam asy-Syafi’i untuk murid-muridnya. Yang ditemui dalam buku para imam madzhab Hanafi hanyalah  masalah-masalah fiqh dan beberapa kaidah yang terserak  di sela-sela pembahasan fiqh tersebut. Akhirnya mereka mengumpulkan masalah-masalah fiqh yang sejenis dan mengkajinya untuk dikeluarkan darinya kaidah-kaidah ushul.[32]

Untuk lebih memudahkan ingatan, selanjutnya, secara ringkas dapat dikemukakan ciri-ciri dari metode Hanafiyah dalam penulisan ushul fiqh adalah :

1.      Terlalu mendetail di dalam membahas masalah-masalah furu ‘.

2.      Mereka meletakkan kaidah-kaidah Ushul Fiqh dengan menyimpulkan dari permasalahan-permasalah  fiqih yang ada .

3.      Di dalam merumuskan kaidah-kaidah Ushul Fiqh tersebut, mereka banyak terpengaruh  dengan kaidah-kaidah Madzhab Hanafi. [33]

Di antara kitab-kitab Ilmu Ushul Fiqh yang ditulis dengan menempuh metode Hanafiyyah  ini, dapat disebutkan di antaranya yaitu :

  1. Kitab Ma`akhidz asy-Syara`i’ karya Abu Manshur al-Maturidi (w. 330)
  2. Kitab fi al-Ushul karya Imam al-Karkhi ( w. 340)
  3. Kitab yang disusun oleh Abu Bakar Ahmad bin’ Aliy yang terkenal dengan sebutan Al Jashshash  bernama ushul al-Jashash (w. 380 H)
  4. Kitab yang disusun oleh Abu Zaid ‘ Ubaidillah bin ‘Umar Al Qadliy Ad Dabusiy (w. 430 H),
  5. kitab Taqwim al-Adillah  dan Ta`sis an-Nazhar yang disusun oleh Syamsul Aimmah Muhammad bin Ahmad As Sarkhasiy (w. 483 H ).
  6. Ushul al-Bazdawi karya Fakhr al-Islam al-Bazdawi ( w. 483)
  7. Kitab yang disebut terakhir ini diberi penjelasan oleh Alauddin Abdul ‘Aziz bin Ahmad Al Bukhariy (w. 730 H ) dalam kitabnya yang diberi nama Kasyful Asrar .
  8. Ushul as-Sarakhsi karangan Imam Abi Bakar Muhammad bin Ahmad as-Sarkhasi ( w. 490)
  9. Masuk juga kitab ushul fiqh dalam aliran ini ialah kitab yang disusun oleh Hafidhuddin ‘Abdullah bin Ahmad An-Nasafiy (w. 790 H) yang  diberi judul Al-Manar, dan syarahnya yang terbaik yaitu Misykatul Anwar.[34]

Demikianlah sekelumit penjelasan corak aliran ushul fiqh kelompok Hanafiyah dengan contoh kitab-kitab yang ditulis dengan mengikuti thariqah tersebut.

Metode Gabungan ( Thariqat al-Jam’i ) [35]

Metode ini muncul pertama kali pada permulaan abad ke-7 H melalui seorang alim Irak bernama Ahmad bin Ali bin Taghlib yang dikenal dengan Muzhaffaruddin Ibnus Sa’ati (w. th 694 H) dengan bukunya Badi’un-Nizham Al-Jami’ baina Ushul Al-Bazdawi Wal-Ihkam.[36]  Dalam abad-abad itu muncul pula para ulama yang dalam pembahasannya memadukan antara dua aliran tersebut di atas, yakni dalam menetapkan kaidah, memperhatikan alasan-alasannya yang kuat dan memperhatikan pula persesuaiannya dengan hukum-hukum furu ‘.

Sebagian di antara mereka itu dapat dikemukakan ialah : Mudhafaruddin Ahmad bin ‘Aliy As Sya’atiy Al Baghdadiy (w.  694 H) dengan menulis kitab Badi’un Nidham yang merupakan paduan kitab yang disusun oleh Al Bazdawiy dengan kitab Al Ihkam fi Ushulil Ahkam yang ditulis oleh Al Amidiy; dan Syadrusiy Syari’ah ‘Ubaidillah bin Mas’ud Al Bukhariy Al Hanafiy (w.  747 H) menyusun kitab Tanqihul Ushul yang kemudian diberikan penjelasan-penjelasan dalam kitabnya yang berjudul At Taudlih . Kitab tersebut merupakan ringkasan kitab yang disusun oleh Al-Bazdawiy, kitab AI Mahshul oleh Ar -Raziy dan kitab Mukhtasharul Muntaha oleh Ibnul Hajib. Demikian pula termasuk ulama yang memadukan dua aliran tersebut di atas, yaitu Tajuddin ‘Abdul Wahhab bin’ Aliy As Subkiy Asy -Syafi’iy (w.  771 H) dengan menyusun kitab Jam’ul Jawami’ dan Kamaluddin Muhammad ‘Abdul Wahid yang terkenal dengan Ibnul Humam (w.  861 H) dengan menyusun kitab yang diberi nama At-Tahrir. Dalam kaitan dengan pembahasan Ilmu Ushul Fiqh ini, perlu dikemukakan bahwa Imam Abu Ishaq Ibrahim bin Musa Asy Syatibiy ( w.  760 H) telah menyusun sebuah kitab Ilmu Ushul Fiqh, yang diberi nama A1-Muwafaqat. Dalam kitab tersebut selain dibahas kaidah-kaidah juga dibahas tujuan syara’ ( maqashid asy-syari’ah ) dalam menetapkan hukum.  

Di antara keistimewaan terpenting dari metode ini adalah penggabungan antara kekuatan teori dan praktek yaitu dengan mengokohkan kaidah-kaidah ushul dengan argumentasi ilmiah disertai aplikasi kaidah ushul tersebut dalam kasus-kasus fiqh dengan menambahkan beberapa hal dari yang telah ditetapkan oleh fuqaha` Hanafiyyah. Penulis ushul fiqh dengan metode gabungan ini kebanyakan bersala dari fuqaha Syafi’iyyah dan Hanafiyah.[37]

Buku-buku penting yang ditulis dengan metode gabungan dapat disebutkan selain yang telah disebutkan di atas di antaranya :[38]

  1. Badi’un-Nizham Al-Jami’ baina Ushul Al-Bazdawi Wal-Ihkam karya Ibnus-Sa’ati.
  2. Tanqih Al-Ushul karya Taj Asy-Syari’ah Ubaidullah bin Mas’ud Al-Bukhari (w. th 747 H), buku ini adalah ringkasan dari Ushul Bazdawi, Al-Mahshul karya Ar-Razi, dan Mukhtashar Ibnul-Hajib. At-Tahrir Fi Ushul Al-Fiqh karya Kamaluddin Muhammad bin Abdul Wahid yang dikenal dengan nama Ibnul-Hammam Al-Hanafi (790-861 H). Buku ini lebih dekat ke metode Syafi’iyyah, meskipun penulisnya menyebutkan dalam muqaddimah bahwa ia menulisnya dengan metode gabungan.
  3. Jam’ul-Jawami’ karya Tajuddin Abdul Wahab bin Ali As-Subki Asy-Syafi’i (w. th 771 H).
  4. Al-Qawa’id wal-Fawaid Al-Ushuliyyah karya Ali bin Muhammad bin Abbas al-Hambali yang terkenal dengan sebutan Ibnul-Lahham (752-803 H).
  5. Musallam Ats-Tsubut karya Muhibbuddin bin Abdus-Syakur Al-Hanafi (w. th 1119 H).
  6. Irsyad Al-Fuhul Ila Tahqiq ‘Ilm Al-Ushul karya Muhammad bin Ali bin Abdullah Asy-Syaukani Asy-Syafi’i (w. th 1250 H).

7.     Al-Muwafaqat Fi Ushul Al-Ahkam karya Abu Ishaq Ibrahim bin Musa Asy-Syathibi Al-Maliki (w. 790 H). Buku ini istimewa karena penulisnya menggabungkan antara kaidah-kaidah ushul dengan maqashid (tujuan), asrar (rahasia), serta hikmah syariat dengan bahasa yang mudah dan penjelasan yang gamblang.

Dalam perkembangan berikutnya, para sarjana kontemporer juga tak ketinggalan menyusun kitab ushul fiqh yang pada dasarnya menggabungkan dua metode tersebut. Beberapa buku Ushul Fiqh kontemporer yang cukup di kenal khususnya di lingkungan perguruan tinggi Islam dapat disebutkan sebagian di antaranya :

  1. Tahshil Al-Wushul Ila Ilmil-Ushul karya Muhammad Abdur Rahman Al-Mahlawi Al-Hanafi (w. 1920 M).
  2. Ushul Al-Fiqh karya Muhammad Al-Khudhari (w. 1927 M).
  3. Ushul Al-Fiqh karya Abdul Wahab Khalaf (w. 1955 M).
  4. Ushul Al-Fiqh karya Muhammad Abu Zahrah (w. 1974 M).
  5. Ushul Al-Fiqh karya Muhammad Zuhair Abun-Nur.
  6. Ushul Al-Fiqh Al-Islami karya Syaikh Syakir Al Hambali.
  7. Ushul Al-Fiqh Al-Islami karya Wahbah Zuhaili.
  8. Ushul Al-Fiqh Al-Islami karya Zakiuddin Sya’ban.
  9. Ushul At-Tasyri’ Al-Islami karya Ali Hasbullah dan lain-lain.[39]

Khatimah : Turats Ushul Fiqh

Sebagai khulashah dari uraian di atas, berikut kami paparkan ringkasannya sebagai berikut :

Menyangkut Turast Ushul Fiqh, kita tidak bisa dilepaskan dari beberapa kenyataan seperti di bawah ini : [40]

a. Semula Ilmu Ushul Fiqh disusun pertama kali oleh nashir as-sunnah Imam Syafi’I , sebagai alat  untuk memahami nash-nash  yang ada di dalam Al Qur’an dan As Sunnah. Oleh karenanya, kita dapatkan pembahasan – pembahasan di dalam karya-nya Ar-Risalah ,-walaupun ditulis dengan metodologi yang masih sangat sederhana dan jauh dari sistimatis, namun isinya padat dan berbobot, serta tidak tercampur dengan ilmu-ilmu lainnya, seperti lmu Kalam,  dan pembahasan tentang bahasa yang sangat melebar.

b. Selanjutnya pembahasan Ushul Fiqh yang sangat masih sangat sederhana ini dikembangkan dan disempurnakan  oleh para pengikut Imam Syafi’I dan para pihak yang setuju dengannya dengan metodologi yang lebih luas, yang kemudian dikenal sebagai metodologi  Al- Mutakallimin “ .

c. Di sisi lain, ada sebagian ulama, terutama dari kalangan Madzab Hanafi,  yang cenderung menulis buku Ushul Fiqh, dengan menggunakan metodologi yang sering dipakai oleh para ahli fiqh, yang kemudian terkenal dengan metodologi  Al- Fuqaha`.

Perlu di catat di sini, bahwa sebagian kecil ulama Madzhab Syafi’i terdapat pula yang cenderung menulis Ilmu Ushul Fiqh dengan metodologi  Al Fuqaha   di atas, diantaranya adalah Al-Zinjani, di dalam bukunya  Takhrij Al  Furu’  ’ a la al Ushul  dan al-Isnawi di dalam  bukunya Al Tamhid  fi Takhrij al-Furu’ ‘ala al-Ushul. 

d. Kemudian datanglah generasi berikutnya yang menginginkan perubahan di dalam penulisan Ushul Fiqh. Menurut mereka, bahwa penggabungan dua metodologi di atas, merupakan metodologi yang paling relevan, yang kemudian dikenal dengan metodologi Al-Mutakhhirin . Di antara tokoh-tokohnya adalah : Al Qarafi dengan bukunya  Al Furuq  , As Syatibi dengan bukunya Al Muwafaqat, Ibnu Qayyim dengan bukunya I’lam Al Muwaqi’in  [41]

Di masa sekarang, metodologi seperti apa yang dapat ditawarkan?.

 

 

Daftar Pustaka

 

Abdul Karim Zaidan, Al-Wajiz Fi Ushul Al-Fiqh, Cet. IV, ( Bairut : Muassasah Ar-Risalah, 1994)

Ahmad Hasan, The Early Development of Islamic Jurisprudence, ( Delhi : Adam Publisher & Distributors, 1994 )

Ali Hasballah, Ushul At-Tasyri’ Al-Islami, Cet. IV,  ( Kairo : Dar Al-Ma’arif, 1971)

Abdul Wahhab Khallaf, Mashadir At-Tasyri’ Fi Ma La Nashha Fih, ( Kuwait : Dar Al-Qalam, 1972 )

Abdul Wahhab Khallaf, ‘Ilmu Ushul Al-Fiqh, Cet. XII, ( Ttp : Dar Al-Qalam, 1978)

Ibrahim Usman, Ushul Al-Fiqh; Al-Madkhal Wa Al-Hukm Asy-Syar’i, Cet. I, ( Ttp : Dar Al-Quds, 1994)

Ignaz Goldzhiher,  Introduction To Islamic Theology And Law, ( New Jersey : Princeton University Press, 1981 )

Ja’far As-Subhani, Tarikh Al-Fiqh Al-Islami Wa Adwaruhu, ( Bairut : Dar Al-Adhwa`, 1999 )

Jamaluddin ‘Athiyyah, At- Tanzhir Al-Fiqhiy, Cet. I, ( T.T.P : T.N.P, 1987)

Joseph Schacht, An Introduction To Islamic Law, ( Oxford : Clarendon Press, 1964 )

Mukhtar Yahya & Fatchurrahman,  Dasar-Dasar Pembinaan Hukum Islam, Cet. X, ( Bandung : Al-Ma’arif, 1993)

Muh. Abu Zahrah, Ushul Al-Fiqh, ( Kairo : Dar Al-Fikr Al-‘Arabi, Tt.)

Muhammad Khudhary Bik, Ushul Al-Fiqh, ( Bairut : Dar Al-Fikr, 1988 )

Muhammad Musthafa Asy-Syalabi, Ushul Al-Fiqh Al-Islami, ( Beirut : Dar An-Nahdhat Al-‘Arabiyyat, 1986)Rut

Muhammad Jawad Mughniyyat, Ilmu Ushul Al-Fiqh Fi Tsaubihi Al-Jadid, ( Bairut : Dar Dar Al-‘Ilmi Li Al-Malayin, 1977)

Musthafa Sa’id Al-Khin, Atsarul Ikhtilaf Fi Al-Qawa’id Al-Ushuliyyah Fi Ikhtilaf Al-Fuqaha`, Cet. V, ( Bairut : Mu`Assasah Ar-Risalah, 1994 )

Thaha Jabir Al-‘Alwani, Ushul Al-Fiqh Al-Islami; Source Methodology In Islamic Jurisprudence, (Virginia : The International Institute Of Islamic Thought, T.T )

Wael B. Hallaq, A History Of Islamic Legal Theories,  ( United Kingdom : Cambridge University Press, 1997 )

Wahbah Az-Zuhaily, Al-Wasith Fi Ushul Al-Fiqh, ( Damasjus : Mathba’ah Al-‘Ilm Iyyat, 1969)

Http://abdurrahman.org/aqeeda/usulalfiqhalawani.html

http://www.islamicity.com/forum/forum_posts.asp?tid=3306&pn=1

http://www.witness-pioneer.org/vil/books/ta_uaf/ch5.html

http://almanaar.wordpress.com/2007/11/07/metode-penulisan-ushul-fiqh/ .

http://ahmadzain.wordpress.com/2007/03/15/turast/ akses 4 maret 2008

 

 

alamat email : mal_dulaziz@yahoo.co.id

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                    

 

 

 


[1] Dosen tetap jurusan Syari’ah STAIN Pekalongan, mahasiswa S3 Hukum Islam IAIN Sunan Ampel Surabaya.

[2] Ulasan dan pembahasan asal dan pengertian ushul fiqh baik dari segi bahasa maupun istilah baik diperiksa pada  kitab Syarh al-Kaukab al-Munir, hlm.  10 dalam al-Maktabah asy-Syamilah, al-Ishdar ats-Tsani.

 

[3] Muhamad Abu Zahrah, Ushul al-Fiqh, ( Kairo : Dar al-‘Arabi, tt. ), hlm. 6.

 

[4] Abdul Karim Zaidan, al-Wajiz fi Ushul al-fiqh, Cet. IV, ( Bairut : Mu`assasah ar-Risalah, 1994),  hlm. 7-8.

[5] Muhammad Abu Zahrah, Ushul al-Fiqh,  hlm. 5. Lihat juga penjelasan yang lebih luas pengertian fiqh dalam Hasyiyah al-‘Aththar Syarh al-Jalal al-Mahally ‘Ala Jam’ al-Jawami’, hlm. 155, dalam al-Maktabah asy-Syamilah al-Ishdar ats-Tsani.

 

[6] Abdul Wahhab Khallaf, Mashadir at-Tasyri’ fi ma la nashha Fih, ( Kuwait : Dar al-Qalam, 1972 ), hlm. 11.

[7] Abdul Wahhab Khallaf, ‘Ilmu Ushul al-Fiqh, Cet. XII, ( Ttp : Dar al-Qalam, 1978), hlm. 12.

[8] Ibid.

 

[9] Muhamad Abu Zahrah, Ushul al-Fiqh, ( Kairo : Dar al-‘Arabi, tt. ), hlm. 6.

 

[10] Muhammad Abu Zahrah, Ushul al-Fiqh,  hlm. 6. Periksa juga  http://bhell.multiply.com/reviews/item/80, diakses 10 Maret 2008.

[11]  Sejarah perkembangan ilmu ushul fiqh agak lengkap dapat dibaca dalam karya  Jamaluddin ‘Athiyyah, at-Tanzhir al-Fiqhiy, Cet. I, ( ttp : tnp., 1987), hlm.  17 dst. Sebagai bahan perbandingan baca juga , Abdul Karim Zaidan, hlm. 13 dst. Muhammad Abu Zahrah, Ushul al-Fiqh, hlm. 8 dst. Muhammad Khudhary Bik, Ushul Fiqh, ( Bairut : Dar al-Fikr, 1988 ), hlm. 3 dst.

 

[12] Mukhtar Yahya & Fatchurrahman, Dasar-dasar Pembinaan Hukum Islam, hlm. 21.

 

[14] Ibid.

 

[15] Mukhtar Yahya & Fatchurrahman, Dasar-dasar Pembinaan Hukum Islam, hlm. 21.

[16]Epistemologi  Ushul  Fiqh, Chozin Nasuha Guru Besar pada Fakultas Syari’ah Ketua Konsentrasi Studi Al-Qur’an Pascasarjana UIN Bandung, dikutip dari situs http://www.ditpertais.net/annualconference/ ancon06/makalah/Makalah%20Chozin%20Nasuha.doc –. Akses 10 Maret 2008.

[17] Ibid.

[18] Ibid.

[19] Lihat Muhammad Abu Zahrah, hlm. 15. Ibrahim Usman, hlm. 14. Abdul Wahhab Khallaf, hlm. 18. Ja’far as-Subhani, Tarikh al-Fiqh al-Islami wa Adwaruhu, ( Bairut : Dar al-Adhwa`, 1999 ), hlm. 17.

[20] Taha Jabir al-‘Alwani, Source Methodology in Islamic Jurisprudence, Second Edition,  ( Virginia : IIIT, 1994), hlm. 71.

[21] Dikutip dari situs   http://abdurrahman.org/aqeeda/usulAlFiqhAlAwani.html, diakses 19 maret 2008.  Lihat dan bandingkan dengan pula di situs http://www.witness-pioneer.org/vil/Books/TA_uaf/ch5.html diakses 19 Maret 2008 .

[22] Abdul Karim Zaidan, al-Wajiz fi Ushul al-fiqh, Cet. IV, ( Bairut : Muassasah ar-Risalah, 1994), hlm. 17.

[23] Daftar kitab ushul fiqh yang menggunakan thariqah mutakallimin secara agak lengkap dapat dibaca dalam tulisan Jamaluddin ‘Athiyyah,  at-Tanzhir al-Fiqhiy, hlm.  29-31. Ja’far as-Subhani, Tarikh al-Fiqh al-Islamiy…, hlm. 450 dst.

[24] Jamaluddin Athiyyah, at-Tanzhir al-Fiqhiy , hlm. 31. Muhammad Abu Zahrah, Ushul al-Fiqh, hlm. 16.

 

[25] Muhammad Khudhary Bik, Ushul al-Fiqh, hlm. 6-7.

 

[26] Jamaluddin ‘Athiyyah, at-Tanzhir al-Fiqhiy,  hlm. 32. Muhammad Khudhary Bik, Ushul al-Fiqh, hlm. 7.

 

[27] Ibid.

 

[28] JamaluddinAthiyyah , at-Tanzhir al-Fiqhiy, hlm. 33.

 

[29] Ibrahim Usman, Ushul al-Fiqh; al-Madkhal wa al-Hukm asy-Syar’i, Cet. I, ( TTp : Dar al-Quds, 1994), hlm. 15-16.  Muhammad Abu Zahrah, Ushul al-Fiqh, hlm. 16.

 

[31] Contoh-contoh perbedaan kaidah ushul dan aplikasinya dapat dilihat tulisan dari Musthafa Sa’id al-Khinn dalam Atsar al-Ikhtilaf fi Qawa’id al-Ushuliyyah fi Ikhtilaf al-Fuqaha`, Cet. V, ( Bairut : Muassasah  ar-Risalah, 1994 )

 

[33] Bandingkan juga dengan penjelasan Muhammad Abu Zahrah, Usul al-Fiqh,  hlm. 17-18.

[34] Jamaluddin ‘Athiyyah, hlm. 37.

 

[35] Ibrahim Usman, hlm. 16-17.

 

[36] Abdul Karim Zaidan, al-Wajiz fi Ushul al-Fiqh, hlm. 18.

[37] Muhammad Abu Zahrah, Ushul al-Fiqh,  hlm, 19.

 

[38] Abdul Karim Zaidan,  al-Wajiz fi Ushul al-Fiqh, hlm. 18-19.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s